Bab 14-(Part 1-Warisan Peradaban Dinasti Umayyah dan Akhir Kekuasaannya)

 

Kehidupan Intelektual di Bashrah dan Kufah

Para penakluk dari padang pasir tidak memiliki tradisi belajar dan khazanah budaya yang dapat diwariskan kepada negri-negri taklukan mereka. di Suriah, Mesir, Irak, dan Persia mereka duduk khidmat, menjadi murid dari orang yang mereka taklukan dan sejarah membuktikan mereka merupakan murid yang rakus ilmu.

Dekatnya dengan masa jahiliyah, perang sipil, perang melawan musuh Islam, dan kondisi ekonomi yang belum stabil merupakan faktor penentu lambatnya perkembangan intelektual pada masa awal ekspansi Islam. Pernikahan campuran dengan Berber, Koptik, Suriah, Persia membuat bias antara peradaban Arab dan non-Arab. Kini pengikut Muhammad identik dengan orang Arab. Jika kita berbicara tentang kedokteran Arab atau matematika Arab maka yang dimaksud bukanlah kedokteran dan matematika orang-orang Semenanjung Arab tetapi lebih tepat jika disebut kedokteran dan matematika orang Islam.

Selama periode Umayyah, Makkah dan Madinah menjadi tempat berkembangnya musik, puisi, dan lagu. Sementara kota kembar Kufah dan Bashrah berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual di dunia Islam. Di perbatasan Persia, kajian ilmiah tentang tata bahasa Arab telah dimulai, mulanya bermotif kebutuhan para pemeluk Islam yang ingin mempelajari al-Quran, menduduki kursi pemerintahan, dan bisa berinteraksi dengan para penakluk. Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan jika perintis ilmu tata bahasa Arab, Abul Aswad ad-Duali berasal dari baghdad.

Kajian bahasa Arab menjadi suatu keniscayaan untuk mempelajari dan memahami al-Quran yang berbahasa Arab. Lalu, kajian al-Quran dan penafsirannya melahirkan dua ilmu kembar yaitu filologi dan leksikografi, dan juga aktivitas literatur yang khas Islam, yaitu ilmu hadits. Hadits, dalam pengertian teknis merupakan, perbuatan, ucapan, dan ketetapan yang dinisbatkan kepada Muhammad. Al-Quran dan hadits merupakan landasan pembentukan berbagai ajaran teologi dan aturan hukum Islam (fiqih).

Aktivitas keilmuan lain yang bisa dikatakan sebagai embrio gerakan intelektual Islam adalah penulisan sejarah. Kajian histiografi pada masa ini dimulai dari kajian hadits. Dengan demikian, ia merupakan salah satu disiplin ilmu paling awal yang dikembangkan oleh muslim Arab. Minat untuk mengumpulkan kisah Nabi dan sahabatnya, dan para raja merupakan landasan bagi penulisan buku-buku tentang penaklukan dan biografi.

Perkembangan Gerakan Keagamaan

Pada masa Dinasti Umayyah juga terdapat gerakan yang berusaha menggoyahkan fondasi agama Islam. Pada paruh pertama abad ke-8, hidup seorang tokoh terkenal, Wasil bin Atha seorang pendiri mazhab rasionalisme yang kondang disebut Muktazilah. Ia merupakan murid dari Hasan al-Banna yang cendurung kepada Qadariyah-mazhab filsafat paling awal yang cenderung pada doktrin kebebasan berkehendak. Doktrin Muktazilah paling terkenal merupakan klaim bahwa mukmin yang berdosa besar berada diantara orang beriman dan orang kafir.

Selain Muktazilah, sekte keagamaan lain yang tumbuh berkembang pada masa ini adalah kelompok Khawarij, jika Muktazilah memelopori gerakan rasionalisme, Khawarij menjadi gerakan pelopor dalam puritanisme Islam. Jika Qadariyah dikenal sebagai mazhab filosofis Islam paling awal maka Khawarij merupakan sekte politik keagamaan paling awal. Sekte yang awalnya mendukung Ali dan pada akhirnya menentang Ali ini berulang kali melancarkan pemberontakan senjata untuk menuntut hak stimewa orang Quraisy untuk menduduki jabatan kekhalifahan. Sekte ini-Khawarij- juga selama tiga abad pertama dalam sejarah Islam telah banyak menumpahkan banyak darah muslim.

Sekte lain yang muncul ialah Murjiah, yang mengusung diktrin irja, yaitu penangguhan hukuman terhadap orang-orang beriman yang melakukan dosa dan mereka tetap dianggap sebagai muslim. Lebih spesifik lagi, Murjiah tidak mempermasalahkan kekhalifahan Umayyah, menurutnya siapa yang benar dan salah akan menerima ganjarannya nanti. Secara umum, ajaran pokok Murjiah berkisar pada toleransi. Representasi paling nyata dari sayap moderat mazhab ini adalah Abu Hanifah, yang merupakan pendiri pertama dari empat mazhab hukum Islam Sunni.

Kelompok lainnya, yaitu Syiah merupakan salah satu dari kubu Islam pertama yang berbeda pendapat dalam persoalan kekhalifahan. Para pengikut Ali ini membentuk kelompok yang solid selama Dinasti Umayyah. Sistem imamah kemudian menjadi unsur pembeda antara Syiah dan Sunni. Orang Syiah menjadikan imam mereka sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan. Seorang imam, menurut mereka merupakan pemimpin komunitas Islam satu-satunya yang sah dan ditunjuk oleh Tuhan untuk memegang kekuasaan tertinggi. Seorang imam merupakan pemimpin agama dan spiritual sekaligus pemimpin juga dalam politik. Imam merupakan sosok yang maksum dan mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi daripada manusia biasa. Bahkan Syiah ekstrim mengatakan bahwa imam mempunyai hakikat Ilahi dan merupakan inkarnasi Tuhan.

Tradisi Literer pada Periode Umayyah

Perkembangan budaya literer pada masa ini diantaranya, pidato, korespondensi, dan puisi. Ketiga aspek itu merupakan bagian dari jenis sastra yang berkembang saat itu. Prosa (nastr) dan puisi (syi’ir) mencapai puncaknya pada masa Dinasti Umayyah. Pidato menjadi sarana untuk membangkitkan semangat, menyebarkan gagasan, dan membangkitkan emosi. Pidato militer yang patriotis merupakan khazanah sastra tak ternilai yang diwariskan kepada kita pada masa-masa awal.

Kemajuan intelektual paling penting selama periode Dinasti Umayyah terjadi dalam bidang penulisan puisi. Saat itu, penyair cinta benar-benar menampakkan eksistensinya. Disamping puisi cinta, puisi politik juga muncul pada masa Umayyah. Puisi politik digubah dan dibacakan untuk para khalifah kerajaan. Pembaca puisi mendapatkan bayaran yang cukup besar untuk karyanya. Membaca puisi menjadi sumber penghidupan bagi para penggubah puisi. Saking tenarnya bidang puisi maka dibuatlah sekolah puisi-yang dilatih oleh para penggubah puisi kenamaan-untuk melahirkan pakar-pakar dalam bidang ini.

Perkembangan Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Pada periode Umayyah belum ada pendidikan formal. Putra-putra khalifah biasanya akan ‘disekolahkan’ ke badiyah, gurun Suriah untuk mempelajari bahasa Arab murni. Nilai-nilai utama yang ditanamkan dalam pendidikan ialah, keberanian, daya tahan ketika tertimpa musibah, menaati hak dan kewajiban tetangga, memelihara kehormatan diri, kedermawanan, dan keramahtamahan.

Masyarakat luas menjadikan masjid untuk mempelajari al-Quran dan hadits. Karena itu, guru-guru pertama dalam Islam ialah para pembaca al-Quran (qurra). Ilmu pengetahuan yang dikenal pada masa itu-dinisbatkan sebagai perkataan Nabi-adalah ilmu agama dan ilmu pengobatan. Pengobatan pada kala itu masih sangat sederhana, jimat, perdukunan, bekam menjadi hal yang lazim digunakan. Ilmu pengobatan ilmiah Arab bersumber terutama dari Yunani dan sebagian dari Persia.

Sebagai salah satu dari beberapa ilmu yang kemudian banyak berhutang pada penemuan orang Arab adalah ilmu kimia. Banyak buku-buku tentang kimia, kedokteran, dan astrologi yang diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Koptik ke dalam bahasa Arab. Dari sanalah orang-orang Arab menggali tradisi ilmiah dan memperoleh tenaga geraknya. Tokoh yang paling terkenal dalam perkembangan ilmu ini adalah putra mahkota Dinasti Umayyah, Jabir bin Hayyan yang terkenal dengan nama latinnya Geber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s