Ratapan Batin Seorang Jomblo

Pertama-tama kenalkan, saya Jaka dan jomblo. Lebih tepatnya Jomblo Kualat karena tulah ini menimpa saya beberapa hari setelah saya menulis kritikan terhadap jomblo. Kini, saya berada di dalam lingkaran yang sama dengan mereka, orang-orang kesepian yang batinnya gersang bak gurun Gobi. Benar-benar layaknya gurun, hati saya kini monokrom, berkaktus, berdebu, dan dipenuhi suara tokek di malam hari.

Oke, izinkan saya yang jomblo ini berteori mengenai cinta dan hubungan. Namun, pertama-tama, tulisan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang setia dan serius dalam berhubungan. Jika Anda gemar berselingkuh dan main-main lebih baik Anda tutup laman ini dan buru-buru shalat taubat. Kedua, karena cinta adalah hal yang sangat subjektif maka tulisan ini pun akan sangat subjektif, kebenarannya hanyalah relatif-parsial. Akan sangat wajar jika beberapa pandangan saya akan berbeda bahkan bisa jadi berbeda secara diametral dengan pandangan para pembaca.

Sebagai mukaddimah, mari kita bahas hakikat cinta. Orang-orang bijak mengatakan bahwa cinta sejati itu kerelaan untuk melepas sang kekasih. Membebaskannya dan memerdekakannya. Jika Anda memiliki cinta sejati maka Anda akan senang jika dia senang dan sedih dikala dia sedih. Ini artinya, jika Anda mencintai seseorang, maka biarkanlah dia berbuat sesuka hatinya, jangan suka mengaturnya apalagi mengekangnya. Mudahnya begini, jika Anda seorang cowo seperti saya, berarti Anda harus rela jika kekasih Anda jalan dengan cowo lain, dekat dengan cowo lain, atau secara ekstrim Anda harus ikut bahagia jika kekasih Anda lebih memilih orang lain ketimbang Anda. Bisa? Bisa gila mungkin.

Pahami makna cinta sejati di atas lalu jujurlah bahwa saya ataupun Anda semua tidak sekalipun pernah ada di ranah cinta sejati. Menyentuh dan mencicipinya pun tidak. Bahkan, cinta Habibie terhadap Ainun belum berpredikat cinta sejati, wong Pak Habibie hampir menderita gila di saat ditinggal Ainun yang menandakan beliau belum rela untuk melepas almarhumah istrinya itu. Jelaslah bahwa cinta yang hakikat hanyalah milik orang-orang bertaraf hakikat. Mereka adalah segolongan elit orang-orang makrifat yang cinta terbesarnya hanya diberikan kepada Tuhan. Cinta sejati yang nirnalar itu ternyata milik orang-orang yang tercerahkan, bukan milik Anda apalagi saya. Saya mah apa atuh, melihat si eneng foto bareng dengan cowok lain, darah sudah naik ke ubun-ubun. Mungkin, cinta level saya ini hanyalah cinta timbal-balik. Cinta yang penuh perhitungan.

Orang bilang cemburu adalah pertanda cinta, padahal cinta sejati adalah di saat hati anda penuh dengan cinta sehingga tak ada ruang masuk bagi perasaan-perasaan lainnya, termasuk cemburu.

Balik lagi ke saya, kini saya mengalami apa yang disebut sindrom ‘habis putus’. Gejalanya ialah, tidak nafsu makan, sulit tidur, gelisah berkepanjangan, badan kurus, mata melebam, kulit mengendur, jalan sempoyongan, ileran, belekan, oke saya mulai bohong. Yang jelas, di hati saya terdapat lubang menganga yang tidak bisa ditambal dengan apapun. Ditambah, kelenjar dalam tubuhpun sepertinya hanya menyekresikan hormon-hormon kemurungan. Belum lagi playlist di hape saya yang menyediakan lagu-lagu para penggalau akut. Entah mengapa sepertinya semesta mendukung saya untuk galau.

Bagaimana kalau move on saja? Ironisnya, saya ini tidak ahli dalam hal move on. Ini kedua kalinya saya ada di kubangan nestapa ‘putus hubungan’ dan nyatanya pengalaman putus di masa lalu tidak sekalipun menguatkan resistensi saya. Rasanya ada black hole yang menyedot habis keceriaan yang saya punya. Kebahagiaan saya rontok bak daun pohon jati yang gugur di musim kemarau. lebay ya? Mungkin iya. Yasudah maafkan.

Bagaimana kalau cari pacar lagi tapi tinggalkan prinsip setia, agar sebelum putus sudah menyediakan kekasih cadangan? Sulit rasanya mencari orang baru mengingat saya sudah mulai menua. Ditambah pergaulan saya yang super sempit membuat ‘stok’ menjadi perihal langka. Masalah kesetiaan, biarlah saya tetap pegang teguh ini dengan segala resikonya. Saya punya analogi tetang setia. Jika kesetiaan itu ibarat koin, sisi yang satu adalah kehormatan dan sisi lainnya adalah rasa sakit.

Oiya, mungkin saya bukanlah pakar cinta atau ekspert dalam menilai suatu hubungan. Tapi saya mau berteori—boleh setuju boleh tidak– bahwa kebanyakan kita yang sudah putus hubungan akan sulit membalikkan hubungan walaupun hanya sekedar pertemanan. Setelah ‘putus’ Anda akan kembali menjadi orang asing di matanya, anda kembali menjadi absurd. Jarak yang semula dekat tiba-tiba menjauh, Anda terpental di urutan terbelakang di daftar temannya. Lalu dari itu semua saya mendapat definisi akan pacaran. Pacaran adalah hubungan di ambang batas, jika berhasil berarti Anda akan menikah dan menjadi pendampingnya seumur hidup, jika gagal maka hubungan Anda terputus, Anda dikenal tetapi seperti tidak dikenal.

Ah cukuplah saya bergalau ria di tulisan ini. segala sesuatu ada hikmahnya, termasuk galau. Sering kali galau bisa memberikan inspirasi untuk menulis. Mungkin saya bisa memanfaatkan kondisi kronis ini untuk menambah jumlah tulisan-tulisan saya yang nggak jelas.  Berharap si Eneng baca ini tapi apadaya si Eneng jarang fesbukan. Yasudah, udah dulu ya mentemen.

Bagi sebagian orang, pacaran itu layaknya perjalanan satu arah yang di ujungnya ada dua jalan, bersatu sama sekali atau berpisah sama sekali.

Aku jomblo maka aku galau

One thought on “Ratapan Batin Seorang Jomblo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s