Kalau Kata Sufi Saya Ini Tolol!

Halo kawan? Apa kabar hati kalian? Mudah-mudahan tidak pecah berkeping seperti hati saya. Oke saya mau bercerita tentang kegalauan jilid dua yang rasa-rasanya belum juga meniris. Mudah-mudahan kalian bisa menikmati tulisan gundah ini.

Jadi begini, di tengah badai galau yang sedang memporak-porandakan lumbung hati ini, tiba-tiba sebuah cerita menghunjam pikiran saya. Cerita simbolik ini begitu menyengat telak seluruh kesadaran saya. Sampai-sampai saya hanya bisa tersenyum getir betapa konsep ini betul-betul pas dengan kondisi saya atau sebagian jomblo lain yang hatinya sedang meretak di semua sisi.

Sebelumnya, mungkin pembaca bisa berpikir bahwa cerita ini hanyalah sebuah dalih penghiburan bagi saya. Terserah, itu tergantung perspektif. Tapi bagi saya, konsep ini berguna bagi saya dalam beberapa hal: kombinasi dari mencari motivasi, penghiburan, dan pembelajaran dari kesalahan yang saya lakukan. Jadi beginilah konsepnya teman.

Anda harus tahu bahwa bagi orang-orang level makrifat, para sufi yang memiliki kejernihan hati dan ketajaman intuisi, sikap saya yang merengek-cengeng akibat putus cinta adalah sebuah ketololan luarbiasa dan kebebalan tingkat dewa. Kenapa? Begini alasannya.

Ibaratnya, ada sebuah mobil yang sengaja parkir di depan rumah saya. Lalu ketika saya keluar dan mendapati ada mobil di depan rumah, saya senang bukan main. Saya dengan bodohnya memegang-megang, menciumi, mengagumi, dan memperlakukan mobil itu layaknya milik sendiri. Tololnya adalah saya begitu yakin bahwa mobil itu memang milik saya. Seketika perasaan cinta saya pada mobil ini sudah terlalu dalam, berurat-berakar, seketika itu juga waktu parkir mobil itu habis dan segera mobil itu meninggalkan saya untuk melanjutkan perjalanannya. Lalu, melihat mobil itu pergi, dengan kejernya saya menangisi dan meratapi mobil itu. Saya berduka karena mobil yang memang bukan hak saya pergi meninggalkan saya. Lucu bukan?

Masalahnya ini bukan untuk yang pertama, sudah ada dua mobil yang parkir dan dua kali saya meratap galau di saat mobil itu pergi. Bukan menjadikan pengalaman pertama sebagai pembelajaran saya malah terlena dengan mobil kedua. Ketika mobil kedua pergi, rasa sakit yang melekat malah berlipat dari sebelumnya. Ironi inilah yang saya sebut kebodohan di atas kebodohan.

Anda tahu apa hukum alam terkejam? Penderitaan yang datang selalu setimpal dengan kebahagiaan yang telah berlalu. Anda tahu apa hukum cinta tersadis? Duka yang kau petik sesuai dengan suka yang kau tanam.

Sudahlah kiranya saya puas mencaci diri sendiri, khawatir jika diteruskan kalian para pembaca malah ikut mencaci. Lalu bagaimana jika saya malah disidang oleh para pengusung Gerakan Anti Pacaran di Mahkamah Kehormatan Jomblo? Bagaimana saya menjawab pasal tuduhan “Wa laa takrobu az-zina” yang dilayangkan oleh mereka? Waduh semakin rumitlah hidup saya ini.

Kini saatnya saya mulai menghibur diri saya dan para jomblo segalaksi Bima Sakti yang senasib. Bahwa segala sesuatu ada hikmahnya, jomblo pun begitu. Manfaat mutlak yang bisa langsung diambil ialah sarana yang berpotensi menghasilkan dosa sudah berkurang satu. Saya paham bahwa kanal-kanal penggelembung dosa saya banyak dan satu keran telah tertutup dikarenakan saya menjomblo. Harusnya saya bersyukur, walaupun saya harus menelan antibiotik superpahit untuk mengobati kesalahan saya ini. Terkesan aji mumpung ya? Harap wajar karena wacana pertobatan selalu menjadi narasi paling ampuh untuk menumbuhkan harapan dan optimisme.

Saya juga berusaha untuk menanamkan motivasi bagi pemuda-pemudi yang batinnya sedang tak berbentuk, wabilkhusus untuk diri saya. Dikarenakan halaman parkir kita hanya muat untuk satu mobil, biarkanlah mobil yang sudah berlalu itu. Mungkin saja ada mobil lain yang lebih ‘sesuai’ sedang mengantri dan baru bisa parkir di halaman kita saat mobil yang lama telah pergi. Atau mungkin mobil yang hilang itu akan kembali ke parkiran kita dalam keadaan yang lebih baik. Di saat ‘dia’ telah parkir, sabar dulu. Jangan langsung menganggapnya sebagai milik. Tunggulah si empunya menyerahkannya kuncinya dan mengamanahkan mobilnya kepada kita. Sungguh motivasi yang sangat idealis-rasional tapi tak apa, toh memang kita seharusnya seperti itu bukan? Saya juga menginginkan keadaan seperti ini, tapi karena hati manusia adalah makhluk-Nya paling labil dan inkonsisten saya enggan berjanji-janji manis terlebih dahulu.

Sudah dulu ya teman, kini saatnya saya tidur karena tidur satu-satunya obat penjeda kegalauan walaupun terkadang kehidupan mimpi saya ikut menjadi galau. Apes banget kan? Tak lupa, saya ucapkan terima kasih untuk segala kesabaran kalian membaca tulisan ini. Jangan pernah bosan membaca tulisan saya yang nggak jelas ini ya kawan!

Akal memiliki tameng rasionalitas, hati memiliki pedang nirnalar. Dalam urusan cinta mereka beradu dengan sengit, bertarung untuk saling mengalahkan. Namun, di saat kepulan debu konflik mengendap terlihat hati dan akal bersatu. Akal telah kalah dan menyerahkan tameng rasionalitasnya untuk membela cinta yang diagungkan hati.

Aku masih galau maka aku masih ada

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s