Anda Berhak Menjadi Liberal, Moderat, atau Konservatif, Asalkan Pegang Prinsip yang Satu Ini

Sebelumnya perkenankan saya (lagi-lagi) menuliskan sebuah pemikiran saya yang ala kadarnya. Mudah-mudahan tulisan siap saji ini berkenan di hati pembaca yang budiman. Sejenak mari kita lupakan masalah kejombloan saya dan deritanya, saatnya lebih serius sedikit. Pembicaraan kita sekarang adalah ekspresi dan interpretasi nilai-nilai keislaman yang seorang individu yakini dan impelementasikan. Serius banget ya? Yasudah nikmati saja.

Pertama-tama saya mau ber-cocoklogi yang shahih. Islam itu ibarat mozaik, perpaduan rumit beragam komponen. Ajaran Islam ibarat sebuah sistem kesatuan yang tersusun dari varian komponen seperti tauhid, syariat, akhlak, di mana jika didekonstruksi, ketiganya bisa memuat jaringan-jaringan lebih kompleks seperti tafsir, hadits, sejarah, fiqih, ushul fiqh, tasawuf dll. Sudah jangan banyak-banyak nanti pusing.

Implikasinya apa? Kajian di dalam Islam sangatlah banyak dan variatif. Dengan begitu, spektrum pemikiran dalam Islam amatlah luas. Inilah yang menyebabkan adanya gradasi akan pemikiran-pemikiran Islam, yang jika ingin kita sederhanakan setidaknya level pemikiran itu menjelma ke dalam tiga bentuk, konservatif, moderat, dan liberal.

Mungkin kita sering kali menghakimi saudara kita, ah si Entong mah konservatif, si Cemen liberal tuh, yang moderat mah Gua doang. Aiihh…rasa-rasanya semuanya mau ada di sisi moderat, pemikiran jalan tengah yang identik dengan toleransi, perdamaian, dan Islam ideal. Walaupun sebenarnya, di Indonesia bahkan di dunia sekalipun, batas-batas antara konservatif, moderat, dan liberal tidak pernah jelas. Ketiganya memiliki wilayah irisan yang menjadikan sebuah pemikiran menjadi samar. Maka itu jangan heran, pemikiran kita ini sering inkonsisten, moderat di satu masalah, tapi liberal di masalah lain. Menentang konservatisme tetapi tanpa sadar malah beralih ke sana. Ya begitulah kira-kira.

Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan secara tepat, tapi izinkan saya yang jomblo ini memberikan pencerahan sedikit mengenai ketiganya. Apa itu konservatif? Itu adalah pemikiran yang kolot bin kaku, cenderung resisten terhadap ijtihad baru yang lebih modern. Termasuk konservatif juga mereka yang menampilkan ekspresi ke-Islaman serba harfiah. Kelompok skripturalis seperti Salafi bisa masuk dalam kategori ini. Lalu di ujung pendulum yang lain ada liberalis. Biasanya label ini diperuntukkan bagi mereka yang menafsirkan dalil-dalil secara ‘serampangan’ sehingga menelurkan pendapat yang ‘nyeleneh’. Tidak selamanya pendapat ini benar karena penganut ‘mazhab’ liberal juga memiliki metodologi penafsirannyanya sendiri yang diharapkan pendapatnya bisa mengakomodir tuntutan zaman. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi lontong. Liberal kadung memiliki stempel negatif. Sudah jelas para aktor dari kolompok ini, JIL dan sejenisnya. Lalu di tengah-tengah tampillah si moderat, layaknya orang bijak yang mampu mengkompromikan dua ujung ekstrim tersebut. Tidak rigid namun juga tidak terlalu bebas. Pemikirannya memiliki kelenturan yang memungkinkan adanya penawaran yang opsional dalam berpendapat. Inilah aliran mayoritas. Kebanyakan cendikiawan muslim dan ulama besar menggawangi pemikiran moderat.  Pusing yang Mas, Mbak? Kalau sudah pusing, saya sarankan untuk minta dipijit pasangannya masing-masing.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan ketiganya. Selama keyakinan itu didukung oleh pijakan nash yang kuat dan memiliki rujukan ulama yang shahih. Maka pendapat apapun menjadi sah, jika benar mendapat dua pahala dan satu pahala jika salah. Jadi intinya bagi saya—Bagi saya loh ya!— Anda boleh-boleh saja mengharamkan membaca al-Quran dengan langgam jawa atau berkeyakinan bahwa Indonesia harus dijadikan negara Islam, atau sah-sah saja jika Anda membolehkan wanita muslim menikahi pria non-Islam atau Anda berpihak kepada gerakan yang mendukung LGBT . Toh, pada akhirnya, “Lakum dinukum waliyadin” kok, “Untukmu balasanmu, untukku balasanku”

Tetapi ingat, pemikiran Anda yang konservatif atau liberal ini hanya boleh dijadikan sebagai sikap internal. Jika anda berada di ruang publik, tampilkanlah sikap yang inklusif. Anda boleh kolot dalam pemahaman tetapi moderatlah dalam bersikap. Anda boleh liberal secara pribadi, tetapi moderatlah secara eksternal. Intinya, anda tidak boleh memaksakan pendapat Anda kepada orang lain. Jika ingin menawarkan gagasan pribadi, maka lakukanlah diskusi yang sehat. Bebaskanlah orang lain dalam berpendapat, tanpa justifikasi haram, bid’ah, kafir, liberal, antek wahyudi, kolot, fundamentalis, ekstrimis dsb. Atau bisa juga sampaikanlah keyakinan Anda itu dengan cara yang santun dan nyelow. Jika melihat pendapat Anda itu berpotensi untuk mengguncang kemaslahatan umum, maka legowolah untuk mundur. Jangan batu, keras kepala, degil, atau apalah namanya. Intinya jangan tampilkan sikap yang radikal!

Cukuplah kita mengetahui, bahwa alasan, konflik ideologis di Indonesia yang semakin hebat adalah karena adanya benturan yang cukup kuat dari dua kutub ekstrim, konservatifme-tradisional melawan liberalisme-sekuler, yang ironisnya sama-sama radikal. Di media sosial contohnya, kekusutan dan kesemrawutan dialektika serba ekstrim sangat nyata terlihat. Bahkan lucunya, mereka yang moderat pun bisa menjadi biang masalah di saat sikap radikal mereka kedepankan. Yap, memaksakan kemoderatannya kepada orang lain.

Ingat, kebenaran yang kita yakini amatlah relatif. Pemahaman keislaman ideal yang kita miliki ibarat kepingan puzzle yang terpisah. Kita mungkin memiliki beberapa kepingan kebenaran, tapi yang lain juga memilikinya. Kebenaran kita tidaklah paripurna karena sebagiannya berada digenggaman saudara kita yang lain. Apapun aliran kita, seperti apapun ekspresi ke-Islaman kita, persatuan dan persaudaraan adalah harga mati. Paham apapun yang Anda yakini, moderatlah dalam bersikap.

Mudah-mudahan kita tetap bersatu dalam perbedaan. Jadikan perbedaan di antara kita sebagai rahmat. Jadikanlah cinta sebagai pemersatu. Seperti Abang dan Eneng yang walaupun berbeda sikap, pemikiran, dan keinginan tetapi tetap bersatu karena cinta. Aihh, jomblo gagal move on.

Sudah ya…selamat bobok lagi.

 

 

2 thoughts on “Anda Berhak Menjadi Liberal, Moderat, atau Konservatif, Asalkan Pegang Prinsip yang Satu Ini

  1. setuju banget, pernah mikirin hal ini juga, kebanyakan orang memaksakan pemikirannya kepada orang lain, bahkan sampai dengan melukai orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s