Wisuda? Saya Butuh 6,5 Tahun!

2016221220614.jpg

“Hidup memang penuh intrik”, ya itulah kata-kata yang shahih untuk menggambarkan apa yang saya alami sejak beberapa tahun terakhir. Saya mulai mengendus skenario ini sejak pertama kali kaki saya jejak di studio Arsitektur UI 6,5 tahun silam. Semerbak aroma ketidakcocokan yang berakhir dengan gelar ‘mantan calon arsitek’ untuk saya.

Setelah satu setengah tahun saya berada dalam jerat-jerat neraka arsitektur akhirnya saya memutuskan pindah ke Pendidikan Agama Islam UIN. Cukup fantastis! Saya membanting kemudi akademik saya 180 derajat. Dari yang identik modernis ke arah tradisionalis, dari seniman teknik menjadi santri pondokan, dari Ciputra menjadi Oemar Bakri.

Menyesalkah saya? Dengan senang hati saya jawab tidak! Saya bagai burung yang terbebas dari sangkar emas yang dialiri setrum. Lebay? Biarin! Di PAI saya menemukan jati diri saya yang dulu tersekat oleh pagar Arsitektur. Mungkin bisa dibilang potensi terpendam saya benar-benar terkubur jauh saat saya di jurusan gambar-menggambar itu dan akhirnya sedikit-demi sedikit menyembur keluar saat saya berada di jurusan ngaji-mengaji.

Tapi begini teman-teman, selalu ada harga yang mesti ditebus dari setiap keputusan saya. Konsekuensi yang cukup berat mesti ditanggung karena saya telah menggadai dua tahun saya demi mendapatkan hidup yang saya mau. Bayangkan dua tahun!! Bukan waktu yang pendek. Bermain-main dengan waktu layaknya Anda bermain-main dengan domino, satu kartu roboh, robohlah semuanya. Bagaimanalah perihnya batin saya di saat para junior malah menjadi senior. Karir akademik saya sejajar dengan mereka yang kelahiran tahun 1993, 3 tahun lebih muda ketimbang saya. Di saat teman seangkatan saya sudah disematkan toga, saya masih meringkuk culun di bangku kuliah. Di saat mereka fokus mendaki karir, saya masih pusing mencari judul skripsi, dan di saat mereka sudah merencanakan pernikahan, lantas saya malah bingung mencari pengganti si Eneng. Mulai hilang fokus. Intinya begini, dua tahun yang hilang membuat segala-galanya tertunda dua tahun. Pendidikan tertunda, pekerjaan tertunda, dan yang pasti menikahpun tertunda. Duh miris bukan?

Okelah, sudah cukup saya bercurhat ria. Bagaimanapun lika-liku hidup ini, saya yakin ini adalah jalan terindah, cerita terbaik, dan alur terhebat dari Allah Yang Maha Pengatur kehidupan. Di atas segala resiko dan konsekuensi yang mengarah kepada kepiluan dan sakit hati, masih ada sejuta hikmah dan kebahagiaan yang mengharuskan saya untuk selalu bersyukur kepada Allah. Saya yakin satu hal, bahwa ilmu itu harus didapat dengan bayaran, makin berharga suatu ilmu makin tinggi bayarannya. Ilmu itu bernama ilmu kehidupan dan bayarannya adalah dua tahun umur saya. Cukup setimpal saya rasa.

Dan akhirnya saya berhasil (juga) meraih sarjana. Ini artinya tugas berat menanti saya sebagai guru agama. Saya percaya, guru agama haruslah menjadi salah satu garda terdepan untuk menyelamatkan Islam Indonesia dari paham-paham subversif. Di tengah radikalisme-fundamentalisme yang kian menggerogoti dan menyusupi Islam Indonesia maka guru agama harus berperan layaknya benteng kukuh yang siap menghalau itu semua. Dengan gelar sebagai SPd.I maka saya berjanji akan memberikan imunitas untuk muda-mudi Islam Indonesia agar selamat dari virus radikalisme yang dibawa dari luar. Hidup guru agama, hidup Islam Indonesia…yeaah

Kok kaya mau perang ya? Okelah saya cukupkan saja sebelum semangat jihad saya menular ke Anda-anda sekalian.

Oke terakhir, saya mau mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada keluarga, teman, dan murid-murid saya yang telah dengan ikhlas menjadi sponsor di acara wisuda saya. Pertama keluarga saya (Mamih, Papih, Mila, Aang, Apuh, Cing Iqbal, Cing Umah, dan Azkia). Selanjutnya sohib-sohib saya (si Eneng, Padli, Doloy, Yayan, Lutpi, Zahra, Rara, Farida). Kemudian dedek-dedek emesh dari MIA 2 (MAN 7) (Kurnia, Haide, Reni, Come, Mutia, Muti’ah, Jihan, Aul, Sekar, Tias, dan Sayyid). Terakhir kepada adik asuh saya tim Madani (Hasna, Fikri, Sandya, Aisyah, Baby, Rika). Mereka semua adalah tim-tim hore yang menjadikan wisuda saya amat berkesan, terlalu berkesan sampai saya lupa berkumpul dengan teman-teman PAI yang lain. Sungguh kalian telah berhasil membuat saya berkhianat dengan angkatan saya sendiri. Saya salut!!

Sudah ya mentemen. Saya sudah kehabisan ide untuk menulis. Terima kasih.

Saya Sarjana maka Saya Ada