Beruntungnya Jadi Muslim Indonesia

Teman-teman yang budiman, tulisan ini dibuat setelah saya membaca beberapa buku mengenai konflik di Timur Tengah, seperti di Suriah, Irak, dan fenomena ISIS yang belakangan ini sedang ‘mengartis’. Akumulasi dari itu semua sepertinya memberikan pandangan dan pemikiran baru yang mungkin bermanfaat untuk ditulis. Oke, selamat membaca tulisan kecil ini.

Jadi begini teman-teman, kita sebagai pengamat luar yang asyik minum kopi dan makan gorengan sambil membuka link-link di Fesbuk berkaitan dengan kisruh di Timur Tengah, sering kali terjebak dalam pengamatan ‘di luar akuarium’. Pengamatan sepintas yang melahirkan penilaian serba ‘hitam-putih’. Pihak ini salah, pihak itu benar. Kelompok ini kejam. Kelompok itu korban. Dan inilah asal muasal dari debat-debat berisik di Fesbuk, yang biasanya tersegmentasi antara yang pro rezim Suriah dan pro oposisi, lalu berujung menjadi isu Syiah dan Sunni.

Di tulisan ini saya hanya ingin memberi informasi—yang mudah-mudahan betul—bahwa dalam prahara di Timur Tengah, seperti di Suriah, dulu ataupun sekarang—baik mengenai rezim Assad (Syiah), Oposisi Assad (Sunni), Al-Qaeda (Salafi), ISIS (Salafi), dan Amerika (Barat)—Anda tidak bisa menilai itu dengan kacamata ‘hitam putih’. Cukuplah saya katakan bahwa semua pihak terlibat dalam kekejamannya masing-masing. Tak satupun dari mereka yang memiliki kebenaran universal. Mereka bertindak atas dasar kepentingan dan ambisi. Lalu, demi sampainya ke tujuan mereka tak segan-segan melakukan apa yang kita sebut terorisme.

Beberapa tahun belakangan gejolak di Suriah lahir dari pertikaian antara pemerintahan Bashar Assad yang berlatar Syiah dengan para pemberontak—mayoritas Sunni—yang menuntut Assad di makzulkan. Lalu seperti biasa, atas dasar kemanusiaan akhirnya Amerika harus mengintervensi mereka dan mulailah kisruh. Di titik ini Anda bisa mendapatkan dua pandangan yang berbeda telak, tergantung Anda bertanya ke siapa. Jika Anda bertanya dengan mereka yang ke’wahabi-wahabian’, maka rezim Assad yang Syiah itulah yang telah menindas orang Sunni. Jika Anda bertanya dengan yang ke’Sunni-sunnian’ maka dalang di balik semua ini adalah wahabi yang bekerja sama dengan Amerika.

Manakah yang benar? Dua-duanya benar! Tentunya dengan porsinya masing-masing. Namun, kebenaran mereka tidaklah 100 persen karena semua pihak menggunakan metodologi kejinya sendiri. Apalagi satu pemain tambahan sudah muncul di arena, organisasi teror dengan kepandaian skala mafia, ISIS yang jelas-jelas akan menambah kesemrawutan situasi di Suriah.

Pertikaian antara paham sosialis-sekuler Assad, takfirisme ISIS, dan intervensi Amerika-Barat sering kali berakhir dengan konsekuensi yang tragis. Pembantaian, penyiksaan, pemenggalan kepala, dan pemerkosaan adalah muara dari pertikaian bengis di antara mereka. Dalam melanggengkan kekuasaannya sering kali Assad menggunakan cara-cara ganas semacam pembersihan etnis untuk melawan pemberontak Sunni. Di sisi lain pihak pemberontak—oposisi pengimbang hegemoni Syiah—akan balas dendam dengan cara yang sadis pula, yang korbannya adalah ribuan orang Syiah. Lalu ISIS dengan ambisinya mendirikan kekhalifahan transnasional, berkat teologi salafinya yang ekstrem telah menjadi jihadis yang hobi memenggal kepala. Kafir-Barat, Syiah, bahkan Sunni yang tidak mendukung ideologi ISIS akan menjadi sasaran pedang pemenggal. Lalu gabungan Amerika-Eropa-Israel, dengan dalih kemanusiaan—namun disinyalir ingin mengeruk sumber daya minyak dan gas negri Suriah—juga tidak absen dari melakukan kekejaman.

Dari semua hal yang memuakkan itu, tidaklah ada yang lebih memilukan ketimbang pemerkosaan. Semua pihak memiliki hobi yang sama yaitu pelecehan seksual brutal. Sekilas Anda akan melihat semua pihak yang terlibat—kecuali Amerika—merupakan Muslim yang sangat taat. Syiah, Salafi, Sunni adalah atribut mereka, mereka jelas Islam, bahkan mayoritas taat. Tetapi anehnya mereka melecehkan wanita seperti budak seks. Memerkosa wanita secara bergiliran, memerkosa seorang putri di depan ayahnya, sampai menyiksa dengan memasukan tikus ke dalam vagina, itulah kesenangan mereka. Betapa miris ketika para korban yang selamat itu—kebanyakan wanita belasan tahun—terpaksa melakukan aborsi karena hamil diperkosa. Di saat semua fiqih mengharamkan dan Mazhab Islam melaknat cara-cara demikian, fikih dan mazhab apakah yang dipakai mereka? Mungkin mereka semua menganut Fiqih Libido dan Mazhab Titit-isme.

Jadi mulai sekarang, berhentilah memihak berlebihan satu pihak dengan menyalahkan mutlak pihak lain. Kisruh di Timur Tengah merupakan hal yang amat sulit diidentifikasi; proyek politik, ambisi islamis, dan intervensi Barat bercampur baur dalam skala yang membingungkan. Semuanya mengaku benar, semuanya mengaku korban, dan semuanya melakukan propaganda—terutama melalui media sosial—untuk mencari simpati orang di ‘luar akuarium’. Lalu mereka yang tidak kritis, menelan bulat-bulat propaganda tersebut sesuai dengan kecenderungan mereka berafiliasi dan bersimpati.

Jujur, semakin saya mendalami konflik yang terjadi, pengetahuan saya bukan semakin terang, malah semakin buram. Sungguh sulit melihat siapa yang benar di saat kebenaran yang mereka suarakan diusahakan dengan cara yang licik, keji, dan brutal. Bagaimana jadinya jika mereka ingin menghapus terorisme dengan teror, dan menyelamatkan kemanusiaan dengan cara-cara yang tidak manusiawi? Walaupun pasti ada jejak kebenaran yang mereka miliki sayangnya jejak itu—bagi saya—terhapus oleh oknum-oknum bengis di pihak mereka. Pengecualian untuk ISIS yang benar-benar sudah menyimpang, tanpa ragu saya menyesatkan mereka dan menganggap mereka merupakan kanker ganas dalam tubuh Islam.

Saat ini, mereka semua sedang terkunci dalam lingkaran kekerasan. Huru-hara di Timur Tengah bagai spiral konflik tanpa ujung. Hanya Allah lah yang tahu bagaimana nasib mereka ke depan. Kita hanya bisa berdoa agar benang kusut Suriah dan Timur Tengah lain segera terurai. Sehingga tidak ada lagi yang tersakiti dan teraniaya di antara mereka yang tak lain adalah saudara seagama kita sendiri.

Sudahlah saya menulis panjang lebar tentang yang jauh di luar sana. Sekarang saatnya saya memikirkan tanah tempat saya berpijak dan langit tempat saya bernaung, yaitu Indonesia. Sungguh saya tidak ingin apa yang terjadi di sana terjadi juga di Indonesia. Na’udzubillah. Memikirkan generasi di bawah saya harus hidup dalam teror rudal dan bom sungguh tak terperikan.

Jika dicermati secara seksama, biasanya pra-syarat terjadinya kekacauan—akibat desain konspirasi internasional—seperti di Timur Tengah, mencakup tiga hal, mayoritas penduduknya muslim, kaya sumber daya alam, dan isu sektarian. Kunci yang kurang dalam membuka gerbang konflik di Indonesia hanyalah yang terakhir. Beruntunglah Indonesia memiliki ekspresi keislaman yang amat plural. Inilah yang menyebabkan isu sektarian—semacam Sunni-Syiah—tidak begitu laku di negara kita. Corak keislaman yang varian menjadikan kekuatan tidak terkonsentrasi di satu tempat sehingga potensi munculnya kekuatan destruktif sangat kecil. Terlebih, para ulama dan cendikiawan Indonesia masih setia dengan pandangan dan sikap moderat. Alhamdulillah.

Tetapi kita tidak bisa santai saja, sekarang ini saya mulai mengendus adanya pergerakan—baik yang halus maupun yang terang-terangan—akan adanya indoktrinasi paham luar. Syiah, Salafi-Hizbuttahrir, dan Salafi-Wahabi adalah contohnya.

Syiah, dengan teologi Imamiyahnya yang rumit mungkin yang paling sulit untuk mendapatkan simpatisan. Hizbuttahrir memiliki banyak pendukung, tetapi tujuannya yang blak-blakan ingin mendirikan khilafah Islam mungkin masih menjadi konsep yang ‘ganjil’ bagi banyak orang. Terakhir adalah salafi-wahabi, inilah yang memiliki prospek paling cerah dibanding yang lain. Teologinya yang sederhana, ‘anti bid’ah’ dan kembali kepada qur’an dan sunnah, sering kali menarik. Terutama untuk para muda-mudi yang sedang mencari identitas keshalehan. Maka jangan heran, jika anak-anak rohis dan LDK sering kali ‘berwarna’ salafi-wahabi.

Saya sendiri tidak masalah apapun corak keislaman seseorang, asalkan sikap moderat yang diutamakan. Untuk Anda yang memiliki paham Liberal, Moderat, Konservatif saya mengajak untuk bersama-sama memelihara kesatuan Islam Indonesia. Cukuplah kerusuhan yang terjadi hanya di jagat Fesbuk, kerusuhan debat. Karena debat kusir ala Indonesia paling hanya bertahan satu hari, setelah mencapai ‘ejakulasi’ perdebatan, pesertanya kelelahan dan langsung melupakan apa yang terjadi.

Intinya, cukup beruntung kita menjadi Muslim di Indonesia yang kehidupannya amat sangat tentram dan jauh dari konflik tragis yang berdarah-darah. Jadi, marilah kita bekerja sama agar watak keras dan budaya perang orang luar tidak diimpor ke Indonesia kita tercinta. Marilah kita berdoa agar kedamaian dan kesejahteraan selalu tercurah bagi Indonesia. Marilah kita solid dalam perbedaan, sungguh surga Allah masih terlalu luas untuk kita semua.

Sudah ya teman-teman, tema tulisan ini cukup berat. Tiga jam di depan laptop bukanlah hal yang menyenangkan. Kini saatnya saya memanjakan diri saya dengan bobok manis sambil berharap ketika membuka mata ‘eneng’ baru muncul di hadapan saya.

Aku tidak galau maka aku…