Menulis karena Sakau

Baru-baru ini saya baru menyadari bahwa ada bahaya tersembunyi dari yang namanya ‘sibuk’. Seberapapun positifnya kesibukan saya, ada semacam keresahan pada batin jika saya membiarkan kesibukan ini melanggeng sampai tidak ada celah sedikit pun bagi saya untuk santai, tenang, dan damai.

Ternyata di saat saya sibuk ada sebagian dunia saya yang terancam, yakni dunia literasi. Dunia baca-tulis yang mudah sekali saya masuki di saat saya ‘nganggur’ kini menjadi sebuah kegiatan kognitif berat bagi saya, terutama di saat fisik dan mental saya terlalu lelah untuk membaca sederet huruf yang tercetak di halaman buku . Apalagi menulis yang membutuhkan kejernihan pikiran dan mood yang baik, sulit sekali rasanya hanya untuk membubuhkan satu paragraf di layar laptop.

Berangkat pagi, pulang malam, saya hanya bisa melirik tumpukan buku yang terbengkalai. Sungguh saya merasa berdosa. Buku yang selama ini menemani saya dengan kesetiaan melebihi pacar kini saya acuhkan hanya karena kesibukan yang menguras habis energi.

Saya menulis ini karena sebuah hentakan keras dari otak saya. Entah bagaimana tiba-tiba otak saya seakan menggugat dan memprotes keras akan lesunya daya baca-tulis sekarang ini. Di atas motor, secara mendadak sepertinya neuron-neuron literasi saya menyala terang dan mengumpulkan sebuah ide-ide yang harus saya jelmakan ke dalam tulisan. Curhat dalam tulisan ini adalah idenya.

Beberapa kali saya mengalami kejadian serupa. Terkadang ‘dosa-dosa’ karena melalaikan diri dari baca-tulis sering membuat otak saya secara otomatis mengumpulkan banyak gagasan dan itu benar-benar membuat kepala saya pusing. Bahkan dengan sendirinya banyak kalimat terstruktur tercipta dan membuat kepala saya seakan kepenuhan. Jika begini, jalan satu-satunya untuk mengosongkan isi pikiran saya hanyalah menulis. Inilah yang saya sebut menulis akibat sakau. Saking sakaunya, saya langsung menulis ketika sampai di rumah, mengabaikan rasa lapar yang merongrong ganas perut saya.Ketika semuanya sudah saya tumpahkan dalam bentuk tulisan maka barulah otak saya ‘nge-fly’. Mungkin itulah yang disebut klimaks intelektual yang membuat saraf-saraf kognitif saya menjadi rileks.

Jika boleh saya sedikit berbagi, mungkin banyak juga di antara kita yang tipikal dengan saya. Di saat kesibukan menjadi tidak terelakkan wajiblah bagi kita beradaptasi, menjaga konsistensi baca-tulis dalam keadaan selunglai dan sepenat apapun. Demi dunia-akhirat, membaca dan menulis adalah dua kegiatan penting tak ternilai. Dengan membaca kita menjadi banyak tahu dan karena menulis kita menjadi banyak yang tahu.

Namun alangkah baiknya kita meluangkan waktu segar dan berkualitas untuk membaca dan menulis karena kedalaman membaca dan ketajaman menulis sulit terjadi ketika kondisi fisik-mental tidak bugar. Alangkah bijaknya jika satu-dua kali kita menghentikan kesibukan demi melarutkan diri kita ke dalam buku dan menenggelamkan kita ke dalam tulisan. Jangan sampai di masa mendatang keahlian membaca dan menulis hanya dimiliki oleh segelintir elit.

sudah ya, otak saya sudah lega dan lemas. Saya sudah puas, betatapun jeleknya tulisan ini tetaplah lebih bagus daripada tiada tulisan. Semoga tidak bosan membaca tulisan-tulisan saya berikutnya.

“Sesekali berhentilah. Jadilah tenang. Heninglah bersama buku-buku Anda”