Oh Ramadhan, Kenapa Engkau Sungguh Berbeda Sekarang?

Semakin tua semakin hambar. Itulah yang saya rasakan kini ketika Ramadhan datang. Ini bukan masalah ibadah yang minim atau dosa yang menumpuk. Ini masalah gairah. Antusiasme yang dulu menggelenyar hebat akan tibanya Ramadhan—bulan yang entah kenapa kehidupan bisa menjadi beda sekali—semakin meredup seiring bertambahnya umur. Kini, Jaka dewasa mengeluh karena Ramadhannya tidaklah se-epic di saat masa kecilnya.

Anggaplah saya sedang terjebak ke dalam romantisme Ramadhan era 2000-an awal (saat saya kelas 4-6 SD). Ramadhan yang lebih hidup, lebih berwarna, dan sungguh membahagiakan. Ini serius! Hampir semua yang saya alami dulu kini hanya menjadi kenangan ganjil; semakin diingat, semakin sedih hati ini karena fase-fase yang membahagiakan itu takkan terulang. Sungguh kenangan Ramadhan yang dulu selevel dengan kenangan terhadap mantan.

Kini, melalui tulisan ini saya mengajak saudara-saudara era 90-an untuk sama-sama terjebak dalam lumpur romantisme. Membiarkan diri kita terhisap ke dalamnya, meninggalkan dunia semrawut era sekarang yang semakin materialis menuju dunia polos dan lugu yang hanya dipenuhi oleh canda-tawa bocah-bocah SD era 90-an. Andai kalian punya kehidupan bolang, teman yang asyik, dan bermain oriented, kalian akan banyak setuju tentang apa yang saya rindukan tentang Ramadhan masa lampau.

  1. Petasan

Di masa lalu, salah satu indikasi Ramadhan telah tiba adalah merebaknya bau mercon di jalanan. Mungkin sekarang masih ada hanya tidak semenyengat dulu. Jujur saja saya ini bukan tipe anak-anak bermental prajurit yang ritual sehari-harinya perang Janwe sehabis Subuh. Saya ada di bagian kelompok anak-anak oplosan—setengah bernyali-setengah kecut—yang selalu kompak patungan untuk membeli petasan kategori bahaya rendah (petasan tikus, gangsing, tawon, korek, disko).

Biasanya saat-saat berpetasan ria yaitu ba’da shubuh atau taraweh. Sungguh saya rindu momen-momen berpetasan; melihat keindahan kombinasi warna-gerakan dari petasan gangsing, tegang di saat petasan tawon meluncur, karena gerakannya yang random bisa menyasar ke manapun dan bisa membolongi kaos. Sampai memasukkan petasan korek ke dalam mulut kodok, lalu girang bukan main saat si kodok hancur berantakan. Jahat juga kalau dipikir-pikir tapi bukan main senangnya.

Kesenangan yang tidak akan pernah saya dapatkan di masa saya dewasa, yang pikirannya disibuki oleh kapan kerja? Tabungan udah berapa? Kapan nikah? Pacar emang ada? Diputusin enak ga? Oke stop, mulai ngawur.

  1. Full Permainan

Jika di bulan biasa durasi bermain 5 jam, di bulan Ramadhan bisa meningkat menjadi 10 jam! Sungguh bulan yang penuh varokah. Tujuan bermain bukan hanya untuk mencari kesenangan tetapi juga berguna untuk memanipulasi waktu. Menggunakan prinsip fisika modern, bermain adalah metode melatasi waktu yang paling baik selain tidur. Sehabis subuh, sore hari, setelah maghrib, setelah taraweh adalah alokasi waktu bermain yang efektif.

Ini bukan permainan ala Play Store di android nan canggih karena zaman saya kecil kata ‘android’ hanya berlaku untuk karakter di film Dragon Ball, ‘Android 17 & 18’. Telepon genggam masih penanda bagi orang yang tajirnya tidak tertolong lagi. Anak kecil yang memegang hape, siap-siaplah untuk dikerubungi bocah-bocah kampung, diciumi tangannya tiga kali bolak-balik, dan diminum air bekas cucian kakinya. Ini serius!!

Permainan yang saya maksud adalah permainan versi bocah kampung; main bola di jalanan, layangan, monopoli dll. Tiba-tiba saya rindu dengan aroma busuk air got yang membekas di bola plastik bermerk Panda, saya rindu gesekan tajam benang gelasan di jari, saya rindu kocokan dadu monopoli Mancanegara yang jauh lebih konkret dari Get Rich. Di sinilah kadang saya merasa rugi menjadi dewasa.

  1. Jalan-jalan

Ini adalah hal ketiga yang akan sangat sulit diraih ketika dewasa. Entah kenapa bulan Ramadhan membuat anak-anak bocah menjadi lebih suka berpetualang. Konon, karena yakin setan dibelunggu di neraka menjadi alasannya. Anak-anak kecil menjadi lebih berani untuk mengeksplor tempat-tempat angker. Biasanya ini saya lakukan setelah shalat Subuh, jika tidak ada lawan tanding bermain bola. Saya dan teman-teman akan berkunjung ke suatu tempat seram dan sepanjang perjalanan kami saling tukar cerita tentang mitos-mitos urban yang kami ketahui. Rasa penasaran sekaligus merinding, menjadi momen paling tak terlupakan. Takut tapi seru.

Bagaimana sekarang? setelah dewasa saya akan lebih memilih tidur ketimbang jalan-jalan. Tidur lebih menyimpan energi untuk melanjutkan puasa ketimbang berpetualang. Kehidupan tidak sehat dan datar mulai menjadi rutinitas. Jalan-jalan hanya kenangan dan cerita seram hanya akan saya ingat dengan perasaan geli, sadar karena semua cerita itu kebanyakan fiktif. Konyol di akal tapi dirindukan hati.

  1. Jatuh Cinta

Ramadhan adalah bulan cinta. Maksudnya? Jika Anda sedang jatuh cinta di bulan Ramadhan, Anda akan diliputi perasaan khas dan citarasa tersediri daripada di bulan-bulan lain, terlebih jika Anda menyukai seseorang yang shalatnya di masjid yang sama dengan kita. Ini sulit dideskripsikan, karena Anda harus menyelaminya sendiri. Tetapi bagi kalian yang pernah mengalaminya, bersyukurlah karena itu merupakan anugrah terindah dari Allah bagi bocah ingusan yang hatinya sedang terpasung oleh lawan jenis yang ingusan juga.

Bagaimana modusnya? Mudah, di saat shalat Subuh atau shalat Tarawih adalah saat-saat terbaik. Hanya berpapasan juga sudah senang bukan kepalang, karena biasanya mulut tiba-tiba lumpuh dan hanya bisa cengengesan di depannya. Jika dia tersenyum pada kita, itu cukup membuat kita makin termotivasi untuk ke masjid. Dulu kesuksesan diukur bukan ketika berhasil menjadikannya pacar, terlalu ganjil saat itu untuk anak SD. Tapi keberhasilan ditandai jika kita sudah bisa mengajaknya main badminton bareng. Oh, andai saya bisa merasakan momen membahagiakan itu sekali lagi. Sayang itu hanya memori yang sulit terwujud, apalagi ketika kita dewasa.

Maap terlalu panjang, nostalgia kadang membuat kita dramatis. Tapi saya senang setidaknya memiliki masa kecil yang menyenangkan. Saya bangga, masa kecil saya padat oleh keceriaan yang sejati; akumulasi dari pertemanan yang murni, cinta yang polos, dan belajar yang sedikit. Cerita-cerita inilah yang kiranya perlu kita abadikan untuk kita ceritakan kepada anak-cucu kita kelak. Sekarang, butuh usaha keras untuk mendapatkan kesenangan hakiki layaknya zaman dulu. Itupun kalau kita masih mau mengusahakannya.

Aku mengeluh, “Ramadhan telah berubah”. Ramadhan menghardik, “Zamanlah yang berubah. Kamulah yang berubah!!”