Kewajiban Menutup Warung Makan saat Ramadhan, Bijakkah?

Apa lagi yang menjadi viral baru-baru ini selain berita tentang warung makan yang dirazia oleh Satpol PP, di Serang, Banten? Tiba-tiba saja semua medsos kita dipenuhi oleh ucapan mengumpat kepada Satpol PP yang ‘seperti’nya tidak bernurani. “Tega-teganya merazia orang kecil, kalo berani razia McD, KFC, dan Sabana”. Okelah yang terakhir tidak termasuk, just kidding. Sejujurnya saya suka ekspresi simpatik ini, tapi apakah kesalahan 100% ada di Pemkot Serang dan Satpol PP nya yang kadung jadi tiran dan kebenaran 100% ada di Ibu-ibu penjual warung, atau lebit tepatnya para penjaja makanan yang warungnya tetap buka di siang hari pada bulan Ramadhan? Oke, lagi-lagi tidak ada yang hitam-putih, ini salah satu contoh permasalahan yang berada pada gray area dan butuh penjelasan lanjutan.

Okelah, melalui tulisan ini saya mau mengajak Anda semua berpikir jernih dan mencoba melihat ini dari sudut pandang ushul fiqh, walaupun jelas saya sama sekali bukan siapa-siapa, hanya seorang penggalau yang lagi gabut dan mencoba menulis sesuatu yang rada-rada berbobot.

Sebelum sebagian dari Anda berkomentar, saya mau berikan beberapa cuplikan pandangan yang religius-sufistik-humanis mengenai persoalan di atas.

“Harusnya puasa membuat kita menahan diri dari berbuat dzalim. Kebijakan yang mengharuskan menutup warung itu sewenang-wenang”

“Puasa itu urusan kita dengan Allah, bukan warungnya yang harus ditutup, tetapi hawa nafsu kita yang harusnya dikekang”

“Islam itu ngajarin toleransi, bukan main hakim sendiri. Di Brunei aja yang negara bersyariat Islam warung-warungnya pada buka”

Tiga di atas sekedar contoh feedback yang diberikan masyarakat atas kejadian di atas. Ada benarnya tapi juga ada bagian-bagian yang kurang tepat, menurut saya. Menurut saya loh ya. Begini penjelasannya.

Anda pernah dengar istilah Sadd adz-Dzara’i? kalau ndak, saya mau jelasin. Secara harfiah Sadd adz-Dzara’I bermakna “Menutup jalan”. Ini adalah metode yang dicetuskan oleh Imam Malik dalam pengambilan sebuah keputusan hukum, lalu berkembang menjadi salah satu metode alternatif yang secara konsensus disepakati oleh pakar-pakar hukum Islam sedunia. Jadi Saad adz-Dzara’I (menutup jalan) Imam Malik ini selevel dengan Istihsan (preferensi yuristik) Imam Abu Hanifah dan Istishab (Pra anggapan konsekuensi) Imam Syafi’i.

Contoh gampang dari ‘menutup jalan’ begini, jika mengkonsumsi narkoba itu haram, maka seorang muslim juga diharamkan untuk menjualnya, dari situ juga maka haramlah untuk membuatnya. Padahal, inti keharaman ada pada mengkonsumsinya, tapi jalan untuk mencapai ke arah sana—mengedarkan dan membuat—juga dipangkas dengan tujuan untuk meniadakan atau setidaknya meminimalisir penggunaan narkoba.

Sudah bisa menebak kan arah logika saya selanjutnya? Saya mencoba menggunakan metode Sadd adz-Dzara’I untuk persoalan ‘Apakah warteg layak tutup di bulan Ramadhan pada siang hari?’ Nah, karena persoalan warung makan tidaklah segawat narkoba, maka saya akan menggunakan prinsip yang lebih longgar.

Saya sebetulnya lebih berada di pihak yang membolehkan warung makan untuk tetap buka di siang hari. Alasannya sudah jelas, yang butuh makanan bukan hanya muslim yang sedang berpuasa, tetapi mereka yang non-muslim, muslimah yang sedang haidh/hamil, orang sakit, anak kecil, bahkan pria muslim yang sedang uzur syar’i. Mereka mungkin menjadi pihak yang disulitkan jika semua warung makan dipaksa tutup, bersama si penjual tentunya. Tapi masalahnya adalah, apakah ada jaminan para pembelinya adalah mereka yang memang dibolehkan, bukan para pria muslim KTP yang diam-diam ke warteg lalu dengan sengaja membatalkan puasanya. Atau jangan-jangan memang mereka tidak berpuasa dari awal.

Tahan komentar Anda, saya mau copas cuplikan komentar yang menjadi kemungkinan terlontar.

“Puasa itu urusan kita dengan Allah, bukan warungnya yang harus ditutup, tetapi hawa nafsu kita yang harusnya dikekang”

Oh, bersyukurlah Anda yang memiliki iman yang sesolid bola pejal, yang tidak mungkin goyah hanya karena melihat embun yang menyembul keluar dari segelas es teh. Tapi apakah iman semua orang sekokoh Anda? Jelaslah tidak, bagi orang yang sangat awam, melihat segelas Kuku Bima dengan es batu yang mengapung di dalamnya adalah sebuah bencana yang bisa memporak-poradakan iman. Inilah masalahnya, warteg yang buka di siang hari mungkin terlihat sepele di mata kita, tapi untuk mereka yang teramat awam, warteg itu bisa membuat mereka tergoda setengah mati dan ujungnya mereka bakalan mampir dan booom…batallah puasa mereka.

Jadi pada titik ini, kebijakan yang mengharuskan warung makan untuk tutup bisa dibenarkan juga. Kebijakan itu merupakan metode untuk menutup jalan para awwamers membatalkan puasanya. satu lagi, kebijakan tersebut juga bisa mencegah para penjualnya terkena cipratan dosa karena jika si penjual mengetahui si awwamers ini sebagai muslim yang sedang wajib berpuasa maka tindakannya menjual makanan adalah persekongkolan dalam perbuatan haram. Logika saya betul kan ya?

Jadi tahan dulu untuk berkomentar, “Bukan warungnya yang harus ditutup, tetapi hawa nafsu kita yang harusnya dikekang” karena sekali lagi derajat iman kita tidaklah homogen. Ada juga mereka yang puasanya harus dibantu dengan ‘menutupkan semua warteg’, mungkin warteg yang tutup bisa menjadi sarana latihan bagi mereka. Jadi menurut saya, komentar macam itu malah menunjukkan kesombongan kita yang merasa imannya sudah sesolid baja.

Kalau memang aplicable , win-win solution itu seharusnya adalah membiarkan warung-warung makan itu tetap buka dengan syarat hanya melayani perempuan, anak-anak, dan pria non-muslim. Walaupun cara ini pasti memiliki kelemahan dan kerepotannya tersendiri tapi setidaknya sudah ada usaha yang lebih humanis dan kompromistis untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Wallahu’alam.

Yasudah itu aja, mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung dari tulisan ini. Jikapun ada ya saya minta maap yang sebesar-besarnya. Semoga kita selalu dipersatukan dalam keharmonisan dan semoga iman kita selalu dikuatkan sehingga bisa beribadah optimal di bulan Ramadhan. Aamiin.