Ketika Krisis Spiritual Menimpa Saya

Saya tersentak, bingung, dan kaget karena tiba-tiba Ramadhan sedikit lagi tinggalah bayang-bayang. Malam ke-26, di saat orang lain sedang membenamkan dirinya ke dalam ibadah total, saya menodai bulan suci dengan segala macam dosa. Di saat orang lain sedang mengejar khatam untuk yang kesekian kali, saya masih tergopoh-gopoh untuk mengusahakan satu hari satu juz. Di saat orang lain I’tikaf dan qiyamullail demi meraih Lailatul Qadr, saya dengan nahasnya terbaring lelap, berkubang dalam mimpi yang melenakan.

Semakin saya berkontemplasi, semakin saya sadar ada sebuah masalah besar yang menaungi diri saya. Mudahnya, saya sedang mengalami krisis. Bukan krisis wanita, ekonomi, ataupun intelektual, tetapi krisis spiritual. Yap, semakin saya dewasa entah kenapa saya merasa saya semakin jauh dari Allah. Hati saya kering dan batin saya gersang. Ketika masalah remeh mudah membuat saya gelisah dan kenikmatan yang besar tak mudah membuat saya bersyukur di situlah saya yakin betapa lebarnya jurang antara saya dengan Allah.

Apalagi jika bukan karena dosa yang menggunung yang menjadikan seorang hamba terlempar jauh dari sisi Tuhannya? Ya, kanal-kanal dosa saya banyak dan setiap kanal menyumbang dosa dalam dosis yang mengagumkan, itulah masalahnya. Dosa ibarat noda yang membuat hati menjadi tumpul dan berkarat. Cahaya ibadah dan dzikir sulit menembus sanubari yang pekat akibat menggunungnya dosa yang saya timbun.

Namun bukankah kebaikan Allah melampaui marah-Nya dan rahmat Allah melebihi murka-Nya? Itulah kabar gembira bagi hamba-hamba penginves dosa seperti saya. Jika dosa membuat seorang hamba dan Tuhannya menjauh, maka taubat menjadikan keduanya berdekatan lagi. Dalam tafsir dikatakan, jika seorang hamba bertaubat sekali maka Allah bertaubat dua kali. Taubat pertama Tuhan adalah memberikan petunjuk bagi hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya. Setelah cahaya hidayah membuat sang hamba bertaubat, Allah dengan segala kemurahan-Nya menerima taubat si hamba. Di saat Allah menerima hamba-Nya untuk kembali mendekat kepada-Nya, itulah taubat Allah yang kedua. Begitulah kasih sayang Allah, pantaslah dikatakan bahwa hanya orang kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah.

Ada hadits qudsi yang sangat saya sukai, yang memberikan cahaya harapan bagi orang-orang bergelimang dosa. Firman-Nya merupakan titik terang bagi hamba yang berkelindan dengan maksiat dan janji-Nya adalah penyelamat bagi hamba yang terancam kehinaan akhirat.

Aku yang menciptakan tetapi selain-Ku yang disembah. Aku yang memberi rizki tetapi selain-Ku yang disyukuri.

Kebaikan-Ku turun kepada hamba, sementara keburukan mereka naik kepada-Ku.

Aku berbaik hati kepada mereka dengan memberi berbagai nikmat padahal Aku tidak butuh kepada mereka. Tetapi mereka justru memperlihatkan kebenciannya kepada-Ku padahal mereka makhluk yang paling butuh terhadap-Ku.

Orang yang berdzikir mengingat-Ku adalah teman duduk-Ku. Siapa yang ingin menjadi teman duduk-Ku hendaknya ia berdzikir mengingat-Ku.

Orang yang taat kepada-Ku adalah pecinta-Ku. Sementara orang yang bermaksiat kepada-Ku tidak Kubuat mereka putus asa dari rahmat-Ku.

Jika mereka bertaubat kepada-Ku niscaya Aku menjadi kekasih mereka. Jika menolak, maka aku yang akan mengobati mereka.

Kuuji mereka dengan berbagai musibah agar mereka suci dari noda.

Siapapun yang datang bertaubat kepada-Ku, Kusambut dari jauh. Siapa yang menantang-Ku Kupanggil dari dekat.

Aku akan bertanya kepadanya, ‘Ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai Tuhan selain-Ku?’.

Kebaikan di sisi-Ku dibalas dengan sepuluh kali lipat dan bisa Kutambah. Sementara kejahatan di sisi-Ku dibalas semisalnya dan bisa Kuampuni.

Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya mereka meminta ampunan kepada-Ku pasti Kuampuni.”

Andai hati kita bersih, pastilah kita meneteskan air mata mengetahui betapa kasih sayang Allah begitu besar dan dalam kepada seluruh hamba-Nya.

Sekarang, Ramadhan masih beberapa hari lagi, masih ada kesempatan untuk menorehkan ibadah terbaik. Mudah-mudahan kita (saya khususnya) bisa mengoptimalkan sisa hari di bulan Ramadhan yang belum tentu kita jumpai lagi di tahun berikutnya. Saya sangat berharap krisis spiritual ini cepat berakhir, secepat berakhirnya krisis kejombloan saya.

Demikian curhat saya, bersyukurlah Anda yang masih memiliki spiritualitas mumpuni. Peliharalah harmonisasi Anda dengan Tuhan. Saya jamin, selama hubungan hamba dengan Tuhannya mesra, masalah yang terkait dunia hanyalah seremeh sayap nyamuk.

Semoga bermanfat bagi saya…