Janji Bodoh ke Pare

Setiap manusia pasti pernah mengikrarkan janji bodoh. Janji yang dipengaruhi oleh perasaan bergembira yang meluap-luap dan tanpa pertimbangan. Janji yang begitu mudah diucapkan oleh lisan tanpa perhitungan. Janji yang apabila dipikir-pikir ulang merupakan janji yang begitu sulit untuk dipenuhi. Janji bodoh ini juga pernah saya dan seseorang sepakati, yaitu janji untuk ke Kampung Inggris, Pare.

Tanggal 9 Januari 2016, itulah tanggal yang secara teknis saya putus hubungan dengan seseorang. Di tempat kami bisa kongkow, kami sepakat untuk putus dikarenakan terlalu banyak hal negatif di dalamnya, terlalu menguras tenaga, emosi, dan biaya. Begitu kurang lebih. Lucunya, walaupun pada awalnya pertemuan kami sangat identik dengan air mata, di ujung kesepakatan kami seakan dipenuhi aura pencerahan. Bahwa putus hubungan bukanlah berarti putus persahabatan, bahkan bisa jadi akhir dari cerita kami adalah kebahagiaan di pelaminan. Aihhh sedap bukan?

Akhirnya, kami bisa tertawa lagi dan meninggalkan food court dengan raut muka bahagia. Kebahagian yang saya rasakan saat putus hampir sama dengan kebahagiaan ketika resmi pacaran. Aneh tapi seriusan.

Sebelum kami pulang, kami menyempatkan jajan Chik-chik, makanan favorit kami berupa ayam yang diolah sedemikian rupa dan dibumbui oleh mecin-mecin yang super goyang di lidah. Sembari menunggu si Chik-chik matang, saya menyetuskan ide ‘brillian’, “Bagaimana kalau Kamu libur kuliah kita belajar bahasa Inggris di Pare?” Hanya butuh satu detik buat dia merespon “Iya”. Anggukan yang cepat ditambah senyuman yakinnya membuat janji bodoh itu resmi terikrarkan.

***

Saya menulis ini di tanggal 21 Juli 2016, itu berarti tujuh bulan lebih setelah janji bodoh terucap. Tujuh bulan adalah waktu yang sangat lama untuk menguapkan janji bodoh tersebut. Tujuh bulan, waktu yang sangat cukup untuk mengendapkan janji bodoh, menindihnya sampai terbenam ke dalam sudut terjauh ingatan. Jangankan tujuh bulan, umur janji bodoh itu layaknya asap rokok yang terlihat tebal dalam sedetik, lalu detik kedua sudah lenyap tertiup angin. Besar kemungkinan seseorang itu juga sudah lupa akan janji bodohnya.

Kenapa saya menulis ini? karena pada hari ini saya berangkat ke Pare. Menjelang keberangkatan, saya teringat kembali bahwa saya pernah berjanji ke Pare dengan seseorang. Sekarang, bahkan saya tak tahu kabarnya dan saya ke Pare seorang diri, hanya ditemani ingatan tentang janji bodoh tersebut. Saya berharap perjalanan saya di Pare penuh manfaat. Harapan saya untuk dia adalah agar dia selalu sehat dan baik-baik di sana.

Sudah ya segitu aja, ini bukan tulisan galau. Bahkan saya menulis ini sambil tersenyum lucu, mengingat betapa lugunya kita berdua saat itu.

 

Tiga hal yang terlarang untuk dilakukan manusia!!

Memberi penilaian ketika sedih

Mengambil keputusan ketika marah

Berjanji ketika bahagia