Gen Anti Rantau

Andai saya tidak mengabadikan momen-momen di Pare dalam tulisan mungkin saya termasuk dalam orang-orang yang ingkar syukur. Terlalu banyak hikmah yang dapat saya petik di sini. Wajarlah jika dorongan untuk menoreskan secercah tulisan menguat di neuron kognitif saya. Inilah saatnya saya bercurhat ria. Nikmati saja tulisan ini kawan-kawan.

Begitu cupunya saya, Pare adalah tempat terjauh yang pernah saya jejak setelah Bandung. Butuh racikan tekad dan semangat yang pas bagi saya untuk memaukan diri ini terpental jauh dari Jakarta. Maklum, DNA Betawi yang sulit jauh dari kampung tertanam erat dalam diri saya. Tapi sentilan nasihat dari Imam Syafi’I yang berbunyi, “Merantaulah, orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman” membulatkan tekad saya ke Pare.

Benarlah, baru dua hari di Pare saya benar-benar rindu Jakarta. Waktu berjalan melambat di sini dan detikan jarum jam seakan malas berdetak. Dua hari dan program belum berjalan, saya sudah mau pulang. Hebat! Tapi, enggan rasa membiakkan kepengecutan, saya akan bertahan dengan sekuat hati untuk melewati satu bulan di kampung Inggris, apapun yang terjadi.

Di Pare, saya memilih ELFAST dan mengambil program speaking level 2 dengan jangka waktu dua minggu. Belajar dari senin sampai jumat, dari jam 07.00—17.30. Program yang lumayan bagus bagi lidah-lidah yang masih kaku dan kelu ngomong Inggris. Yasudah, saya niatkan sepenuhnya untuk menuntut ilmu di sini, sejenak melupakan Jakarta beserta kegalauan di dalamnya.

Setelah beberapa hari belajar, ada satu pelajaran berharga yang saya petik. Betapapun ekspertnya seseorang, baik itu S1, S2, atau S bon-bon jika dia ingin mempelajari bidang yang dia lemah di dalamnya, maka dia harus memiliki hati lapang untuk diajari oleh orang yang jauh lebih muda dan duduk setara dengan murid yang lebih hijau lagi. Mungkin di kelas saya termasuk yang paling tua, bersyukur masih ada dua emak-emak yang terdampar di kelas saya, membuat saya ada di urutan tiga tertua.

Seminggu hari di Pare, penyakit demam rumah kembali melanda. Mafhumnya, jika saya buka mata maka yang saya lihat adalah wajah ibu saya dan adik-adik tapi di sini wajah orang lain. Kadang ada perasaan asing yang menjalar, seperti Alien yang menyasar ke bumi dan linglung dengan segala yang ada di sekelilingnya. Ditambah beberapa faktor lain seperti;  menjadi newbie di kelas, sinyal 3 (Three) yang kembang-kempis, sinyal Bolt yang ternyata belum sampai ke Pare, pegalnya menggoes sepeda ke manapun, malam yang relatife sepi, air yang amat dingin di pagi hari menjadi katalis yang menambah daya bosan saya di Pare. Untuk itulah saya memutuskan ikut ke Paralayang yang ada di Batu (Malang) saat weekand untuk membunuh kebosanan saya di sini.

Mungkin angin sejuk Pare baru berhembus pada hari ke-10. Saya menjadi lebih kerasan di sini, mungkin unsur-unsur persahabatan mulai merembes baik di kelas ataupun di kosan. Pertemanan yang lebih klik membuat segalanya cair dan menyenangkan, betis yang mulai terbiasa genjot, jajanan yang serba murah, jalanan yang anti macet, dan udara yang lebih bersih dari Jakarta menjadi motivasi eksternal saya dan membuat saya lebih terbiasa di sini. Mungkin dibantu doa orang tua dan keluarga saya di rumah agar anaknya bisa menikmati hidup di tanah orang.

Saat saya menulis ini, program saya telah berakhir dan masih sisa dua minggu lagi untuk menuntaskan janji saya sebulan di Pare. Di saat kenyamanan sudah timbul, ada beberapa hal yang saya sedihkan yaitu, sebagian besar teman-teman saya akan pulang ke kampungnya masing-masing. Tiga orang teman dekat saya di kosan (Lutfi, Rengga, dan Bayu) pulang. Ini artinya hanya saya dan Ikhsan yang tersisa di kosan. Dua orang Geng Kopet Malang (Mila dan Meidy) juga pulang, tinggal Soraya dan Risma yang tinggal dan entah bagaimana nasibnya Geng Kopet jika sudah tercerai berai begini. Juga teman-teman ELFAST yang cukup menghibur ketika di kelas (Rio, Hafiz, Purba, Anan, Exel, Danik dll) mereka juga pulang karena masa program yang berakhir. Sulit menyebutkan satu persatu nama-nama teman sekelas di sini tapi kalian semua menyenangkan guys.

Okelah, program baru untuk dua minggu ke depan berarti kehidupan baru lagi. Mau tak mau harus move on dan merelakan teman-teman yang pergi, entah bisa bertemu lagi atau tidak. Untuk dua minggu ke depan, saya harus berusaha mencari persahabatan yang baru dan kenyamanan yang baru pula. Berharap segalanya akan menyenangkan sampai saatnya saya pulang ke Jakarta. Oiya, salam takzim saya kepada para dedek-dedek pengajar saya di ELFAST, walaupun semuanya lebih muda dari saya tapi amat saya hormati karena ilmu ke-Inggrisannya jelas-jelas jauh di atas saya. Mis Chacha, Mis Emon, Mis Dian, dan Mr Arif, semoga ilmu yang kalian beri menjadi ladang amal dan keberkahan di dunia dan akhirat. Aminn

Sudah dulu ya, mau keliling Pare dulu…kali aja ketemu dedek-dedek emesh…ga deng becanda.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!!

 

 

One thought on “Gen Anti Rantau

  1. Pingback: Sebuah Perspektif Baru – lintasan pikiran…

Comments are closed.