Dilarang Mencinta Terlalu Dalam Kalau…

Tulisan ini hanyalah pandangan subjektif saya sendiri tentang cinta. Jika tulisan ini diibaratkan dinding, maka pengalamanlah yang menjadi bata-bata penyusunnya. Di umur saya yang sudah menua ini, saya kira tumpukan bata terakhir sudah lengkap dan dinding sudah kokoh. Inilah pandangan saya tentang cinta yang mungkin terus saya bawa sampai mati (mudah-mudahan).

Jelaslah, tulisan ini tidak sempurna, parsial, bahkan ada cacat tetapi hasrat mengeluarkan opini tidak terbendung dan menulis adalah perwujudan ekspresinya. Jikalau berbicara cinta izinkan saya mengutip kalimat seorang bijak yang berbunyi, “Definisi tentang cinta bukanlah cinta”. Dalam skala yang lebih luas kita bisa artikan bahwa teori cinta tidak mengenal rumusan tunggal. Segalanya serba subjektif dan pandangannya kaya sudut. Setiap individu sah berteori dan sah pula menolak teori orang lain, dengan begitu pembaca jelas boleh setuju atau tidak dengan tulisan saya. Nikmati sajalah ya.

Setelah ditempa dua kali sakitnya putus cinta saya menyadari satu hal, bahwa manusia hendaknya jangan mencinta terlalu dalam jika hubungannya belum sampai ke taraf pernikahan. Mengapa? Dikarenakan cinta yang teramat dalam hanya pantas dinisbahkan kepada hubungan yang teramat suci, yaitu pernikahan. Jika masih taraf pacaran, tahanlah cinta Anda pada taraf logika. Dengan kata lain, jika cinta sudah berakhir maka anda pun bisa pulih cepat dengan logika pula.Ini bukan berarti Anda tidak diwajibkan setia. Kesetiaan adalah elemen wajib jika cinta ingin bertahan seterusnya.

Cinta bagi saya adalah madu yang terlapis oleh racun. Kebahagiaan yang dibalut penderitaan. Jika dua cinta bertemu, manusia akan masuk dalam keadaan trans di mana yang Anda rasakan hanyalah kebahagiaan. Tapi, jangan salah setiap kebahagian yang ditimbulkan oleh cinta selalu menyisakan residu penderitaan. Makin bahagia Anda dikarenakan cinta, makin besar potensi Anda menderita di saat cinta sudah tiada. Itulah sebabnya dikatakan, sakit yang kita rasakan berbanding lurus dengan kebahagiaan yang telah hilang.

Maka dari itu cintailah pacar Anda dengan komposisi nalar dan hati yang seimbang. Jika cinta anda terlalu dalam maka sama saja anda sedang menabung duka yang banyak pula. Pada saatnya cinta kandas, penderitaan akan menyeruak keluar dengan ganas. Semburan penderitaan yang selama ini terpendam itulah yang saya rasakan amat menyayat batin saya.

Kebahagian yang terlahir karena cinta selalu terekam dalam memori jangka panjang. Jika masih ada cinta, setiap kenangannya akan menjadi sumber kebahagiaan. Tapi setelah cinta kandas, rekaman yang dulu terasa indah berubah menjadi sakit yang tak terperikan. Sedihnya, otak kita cenderung mengulang-ulang rekaman tersebut, alhasil penderitaan yang kita rasakanpun menjadi bertubi-tubi.

Itulah yang saya rasakan ketika saya mencintai begitu dalam. Membiarkan hati saya tenggelam oleh cinta yang tiba-tiba berubah menjadi racun. Sakit sekali bukan? Entah bagaimana, perih yang saya rasakan akibat cinta memiliki efek langgeng yang luar biasa. Penderitaan seperti merembes ke dalam setiap tubuh saya dan membuat luka di setiap sel-sel darah saya. Sulit rasanya untuk terobati, bahkan tidur pun belum tentu bebas dari kesedihan, terkadang mimpi saya malah menambah pedihnya luka.

Inilah yang menjadikan saya berprinsip bahwa cinta yang dalam hanya boleh diberikan kepada istri. Hubungan pernikahan adalah hubungan penuh berkah, maka itulah saatnya menceburkan diri ke dalam lautan cinta yang juga dipenuhi keberkahan. Cintailah pasangan halal kita sedalam-dalamnya, karena apa yang tumbuh dari cinta suami-istri jelas-jelas diridhai Allah.

Balik lagi ke topik, bahwa jika masih berpacaran janganlah bermain-main dengan cinta. Racun cinta bisa melumpuhkan bahkan membunuh batin seseorang. Perlakukanlah pacar anda dengan hati yang bersih dan nalar yang sehat. Jangan biarkan cinta merasuk terlalu jauh ke dalam relung jiwa. Ingat prinsipnya, anda sedang menabung penderitaan maka itu minimalkanlah agar sakit yang dirasakan mudah disembuhkan.

Terakhir, setelah merasakan indahnya menjalin cinta dan pedihnya putus cinta. Saya berkesimpulan, jikalau mampu, berpacaranlah ketika anda sudah benar-benar siap untuk menjalin pernikahan. Pacaran yang semata untuk saling mengenal satu sama lain, bukan mencicipi satu sama lain. Secepatnya, ikatlah hubungan kalian dengan pertalian suci, yaitu pernikahan. Saya yakin, hubungan akan penuh keridhaan dan keberkahan.

Saya pun belum menikah, tapi saya yakin hal di atas karena pernikahan adalah seruan agama. Begitupun buku-buku bernuansa Islami pasti akan menyerukan hal yang serupa. Begitu besarnya urgensi pernikahan, dalam hadits disebutkan bahwa pernikahan meyumbang separuh dari kesempurnaan seorang muslim.

Setelah membaca panjang lebar apa kalian setuju dengan teori cinta yang saya paparkan? Yasudah, jawab saja kepada hati kalian sendiri ya.

Terakhir, saya doakan yang pembaca yang belum menikah tapi sudah menjalin hubugan agar cepat dimudahkan dalam jodohnya. Bagi yang jomblo saya doakan mendapat pasangan terbaiknya masing-masing di saat paling tepat. Oiya, ingat pula untuk mendoakan saya, terserah apapun doanya asalkan yang baik untuk dunia dan akhirat saya.

Sudah ya saya cukupi saja tulisan ini. Selamat membaca postingan melankolis yang akan datang.

Salam jomblo!