Antara Ide dan Harga Diri

debat

Marilah sejenak beralih dari Jaka yang galau menjadi Jaka yang lebih serius. Sekarang saya akan berbicara tentang ‘ide’ dan implikasinya terhadap harga diri seseorang. Begitu mafhumnya masalah ini menimpa diri seseorang (termasuk saya), maka fardhu ain bagi saya untuk menggunakan kata ‘kita’ dalam tulisan ini.

Teman-teman, tahukah kalian apa kesalahan terbesar kita di saat kita mencetuskan sebuah ide? atau di saat kita berpegang pada sebuah gagasan? Jika kalian belum ngeh jawabannya maka akan saya beri tahu. Kesalahan terbesar yang biasa terjadi adalah kita TERLALU MEMEGANG ERAT IDE tersebut. Saking kuatnya, sering kali kita mengidentifikasi ide tersebut dengan diri kita sendiri. Lalu ketika ide itu dicounter atau dikritisi pihak lain kita merasa diri kitalah yang sedang diinjak. Ketika ada pihak lain yang memiliki gagasan yang berbeda secara diametral dengan kita, langsung saja kita khawatir dan merasa harga diri kita sedang terancam.

Itulah sebabnya perdebatan yang sehat jarang terjadi, itulah sebabnya dua kutub yang bersebrangan selalu berada dalam atmosfer saling bunuh gagasan, dan itulah sebabnya kita cenderung membenci pihak yang pemikirannya bertumbukan dengan kita. Intinya, ketika ide kita dilawan, kita merasa keseluruhan jagad kitalah yang dilawan lalu dengan sangar insting purba kita akan memerintahkan untuk menyerang balik.

Apakah ini salah? JELAS!!  Faktanya yang biasa terjadi adalah kita akan membela mati-matian gagasan yang kita pegang. Kita berusaha melawan balik argumen si penentang dengan cara apapun, lalu tertawa jahat ketika si penentang terkapar oleh pedang argumen kita. Lah ini kalau gagasan kita yang benar. Nah, andaikata di saat kita sudah membela gagasan secara total, berusaha dengan gagah menyalahkan pihak lain tapi teori membuktikan bahwa gagasan kitalah yang salah… MAU DITARUH MANA MUKA KITA?!! Sudah salah malah menyalahkan yang benar, sungguh kekonyolan yang tidak terampuni.

Melampaui itu semua, ada dua implikasi yang melumpuhkan di saat kita terlalu memegang erat ide kita. Pertama, karena kita cenderung melabeli pihak yang bersebrangan sebagai ‘LAWAN’ maka apapun yang keluar darinya kita anggap sebagai kesalahan. Bias perspektif, kebenaran yang bersumber dari lawan terlihat sebagai kekeliruan sehingga sampai mati kita mau mencari celah untuk mengkritisinya. Kedua, karena cenderung mencap pihak yang searus dengan kita sebagai ‘TEMAN’, kita menjadi buta jika si TEMAN melakukan kesalahan, malah kita mencari dalil untuk menopangnya. Sungguh keduanya merupakan bencana intelektual!

Bukankah ini fenomena yang amat umum belakangan ini? iyakan saja biar cepat.

Teman-teman, saya menulis ini agar kita semua belajar untuk meletakkan ‘gagasan’ pada fitrahnya. Marilah kita membiasakan untuk memberi sekat antara ide dan harga diri. Tidak usah terlalu pusing jika ada pihak lain yang menyerang gagasan kita. Jangan merasa diri kita yang ditenjangi jika ada pihak yang mengkritisi ide kita. Buatlah kotak pemisah mana yang perlu dibela mati-matian dan mana yang perlu ditelusuri sampai kebenaran ditemukan.

Patut diketahui, sebuah pemikiran tidaklah datang dari ruang hampa. Gagasan atau ide selalu terbentuk dari banyak faktor. Ibarat bangunan, sebuah gagasan terbangun dari banyak elemen, seperti pengalaman, informasi, perenungan, buku dan seterusnya. Bangunan bisa direnovasi, begitupun gagasan bisa direvisi. Bangunan bahkan bisa hancur dalam sekejap begitupun gagasan kita bisa runtuh dalam seketika. Ingatkah ketika gagasan mapan kaum Gereja masa Dark Age tentang ‘Geosentris’ harus hancur oleh kebenaran ‘Heliosentris’ masa Renaisans? Lihatlah respon gereja terhadap gagasan yang menentangnya dan bagaimana kebenaran harus diperjuangkan walaupun dengan konsekuensi banjir darah. Itulah bentuk ekstrim ketika gagasan terlalu erat dipegang!

Teman-teman patutlah kita belajar dari para Ulama Salaf maupun Khalaf. Mereka senantiasa tidak memberhalakan gagasan mereka, bahkan semua Ulama Mazhab menyikapi segala perbedaan dengan prinsip, “Menurutku, pendapatku benar tetapi ada kemungkinan salah dan pendapatmu salah tetapi ada kemungkinan benar” dan “Jika ada pendapatku yang bertentangan dengan hadits shahih, maka tinggalkanlah pendapatku”. Sungguh sikap yang sangat bijak dan patut diteladani.

Teman-teman, sebuah ide atau gagasan pada hakikatnya memiliki kelenturan yang luar biasa. Mungkin hari ini kita berpendapat A, lalu besok menjadi B, dan lusa bahkan berkebalikan dari sebelumnya. Peganglah gagasan kita tapi bersiaplah untuk melepaskannya di saat ada gagasan yang lebih benar. Untuk itu, tidaklah perlu memperjuangankan sebuah gagasan layaknya memperjuangkan mantan! Maap typo, galaunya masih tersisa. Cara terbaik untuk move on dari gagasan adalah dengan mengembangkan sikap skeptis, sikap ragu yang sehat untuk selalu mencari kebenaran darimanapun, bahkan dari mulut LAWAN sekalipun.

Saya menulis ini bukan berarti saya sudah mampu mempraktikan total apa yang saya tulis. Saya pun masih dalam tahap belajar mengendalikan ego dan berusah untuk tidak menggenggam erat gagasan yang saya punya. Coba bayangkan, alangkah tentramnya hidup ini jika kita bisa saling kalem dan selow dlam berpendapat.

Sudahlah ya, penat kalau berpikir yang terlalu serius. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Saatnya menggalau kembali…yeaahhh.

sumber gambar: http://www.shutterstock.com