Sebuah Perspektif Baru

IMG_20160815_043205

Jika kalian sudah membaca tulisan saya yang berjudul gen anti rantau dan menemukan alasan kenapa hidup di tanah orang begitu berat untuk pertama kalinya. Di sini saya mau menulis sebab musabab saya sebetulnya ogah-ogahan untuk pergi ke Pare. Namun ternyata perspektif saya berubah 180 derajat setelah apa yang saya dapat di sini.

Sejujurnya, butuh pemikiran panjang bagi saya untuk datang ke Pare. Alasan saya sangat pragmatis, motif ekonomi!!. Nasib umur yang membuat saya sudah tak berpangku tangan dengan orang tua membuat saya rada ‘perhitungan’ untuk masalah duit. Sederhananya, andai saya ke Pare satu bulan itu berarti saya harus merelakan mengajar privat saya satu bulan. Pengeluaran di satu sisi tanpa pemasukan di sisi lain. Ini berarti double ‘kerugian’ dalam kalkulasi matematika saya. Ditambah saldo tabungan yang menyusut cepat pasca lebaran bak susutnya air pantai sebelum tsunami membuat saya makin ragu untuk pergi.

Tapi ada hantaman keras dalam batin saya, semacam bisikan malaikat yang membuat saya yakin bahwa uang itu bisa dicari dan menuntut ilmu wajib hukumnya. Lebih baik miskin berilmu daripada kaya berotak keledai. Toh, perut bisa terisi hanya dengan nasi dan garam. Ini sedikit drama sih tapi ya intinya seperti itu. Akhirnya berangkat jugalah saya.

Eng…ing….eng…tibalah saya di penghujung hari kepulangan saya. Lalu terbersit pertanyaan, apakah benar saya sebetulnya ‘rugi’ di sini seperti apa yang saya khawatirkan dulu? Apakah waktu, uang, dan tenaga yang saya hibahkan itu setimpal dengan apa yang saya dapat? Jawabannya adalah apa yang saya dapat justru lebih berharga dari itu semua!

Pertama kali yang terbayang dipikiran saya adalah setiap waktu, uang, dan tenaga yang saya kerahkan harus terbayar dengan ilmu yang saya dapat. Just it tok. Saya sama sekali tidak terpikirkan yang lain, bahkan untuk mencari dedek-dedek emesh pun tidak. Tapi alangkah perspektif saya bergeser jauh, yang awalnya saya melihat dengan perspektif mata cacing kini saya melihat dengan mata elang. Saya tidak hanya melihat upgrading my English sebagai satu-satunya alasan saya di sini. Baiklah, ilmu sebagai raison d’etre nya, tapi jangan salah produk sampingan yang saya dapat begitu berharga bahkan dalam sudut pandang tertentu itu mengalahkan raison d’etre nya sendiri.

Yuk kita hitung-hitung produk sekunder dari sebulan di kampung orang. Pertama, ilmu tentang ke-Pare-an. Yang belum pernah ke sini saya kasih tahu, bahwa makanan di sini super murah. Rata-rata, dengan 12 ribu saya sudah bisa mendapat makanan enak plus es jeruk. Sampai kiamat menjelang rasa-rasanya tidak mungkin ini terjadi di Jakarta.

Masih sekitar Pare, biasanya asumsi spontan tentang Kampung Inggris adalah setiap percakapan selalu dengan bahasa Inggris, bahkan warung-warung kecil pun melayani Anda dengan bahasa Inggris. Ternyata itu hanyalah mitos, dari puluhan tempat makan yang saya jejaki, semuanya berbahasa Indonesia. Andai pun berbahasa Inggris itu hanya ketika si kasir sedang menghitung berapa biaya yang harus saya bayar. Mungkin ada warung yang menerapkan full English tapi saya belum pernah menemukannya.

Oiya, berbekal dari tukar wawasan, malahan warga Pare sendiri tidak begitu peduli dengan bahasa Inggris, hanya sebagian kecil dari mereka yang antusias padahal kursus gratis diberikan kepada warga Pare jika mereka ingin belajar. Ini menurut cerita warga loh ya.

Di Pare, terdapat seratus lebih English Course loh, dari lembaga yang super mapan, memiliki kelas banyak dan camp sendiri sampai lembaga skala kecil yang kadang letaknya nyempil di antara perumahan. Tapi bukan berarti yang kecil selalu kalah kualitas dari yang besar, semuanya tergantung selera pelajarnya masing-masing. Karena itulah setiap lembaga kursus di sini (yang besar atau yang kecil) tetap memiliki banyak murid.

Bagaimana dengan kultur keislamannya? Selama saya di Pare sejujurnya saya seperti sedang di kota santri, sebagian besar perempuannya berjilbab. Hampir semua kidung-kidung sholawatnya mirip dengan yang saya dengar di Jakarta, dugaan saya Jakartalah yang mengimpor itu semua dari Jawa Timur. Yang unik adalah, khusus adzan shalat Dzuhur dan Ashar waktunya terbagi dua, yang satu mengikuti jam sebenarnya dan yang kedua mengikuti jam pulang para petani, mungkin untuk mengakomodir para petani di Pare untuk shalat di masjid. Jadi jarak antara adzan pertama dan kedua bisa sampai 30 menit.

Keuntungan kedua, di Pare hampir setiap weekand saya bisa jalan-jalan. Karena georafisnya yang strategis maka sayang sekali jika hanya mendekam di Pare tanpa menyanggahi tempat-tempat seperti Batu di Malang, Gunung Bromo, Gunung Kelud di Kediri, atau sekalian ke Kawah Ijen di Banyuwangi. Jelas tempat-tempat dengan lanskap pemandangan alam yang menawan sulit ditemukan di Jakarta yang setiap jengkalnya hanya dipenuhi gedung-gedung monoton. Pulang dari Pare saya punya ratusan poto baru di Hp saya.

Ketiga, dan ini yang paling penting, yaitu teman. Secara personal, saya tidak pernah mengharapkan ada sebuah keakraban khusus yang bisa saya jalin di Pare. Tapi, fakta berkata lain, alhamdulillah saya mendapatkan begitu banyak kawan baru yang benar-benar match dengan kepribadian saya. Merekalah pengganti keberadaan keluarga dan teman-teman saya di Jakarta. Merekalah yang mengisi tabung gairah saya selama berada di sini. Hampir semua teman baru saya bukan orang Jakarta, entah kenapa ada kehangatan tertentu dalam diri mereka yang membuat mereka lebih tulus ketimbang orang Jakarta. Ini jujur.

Kebanyakan dari mereka sudah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya tapi demi apresiasi saya bagi mereka, tidak ada salahnya saya sebutkan lagi di sini.

Di kelas Talk More ada Danik, Anan, Exel, Purba, Sinarlin, Hafiz, Milda, Putri, trio Makasar, Abadi, kawan-kawan yang lain dan Miss Cha-cha tentunya. Merekalah yang membuat suasana kelas selalu seru bahkan cenderung gaduh sehingga tidak bosan-bosannya saya berada di kelas Talk More. Juga di kelas inilah saya mendapat teman untuk bermain futsal.

IMG_20160825_191531

Geng rusuh kalau di kelas

Untuk Danik, walaupun saya belum kenal lama, tapi kepribadiannya yang supel dan friendly membuatnya asik diajak ngobrol. Setidaknya jika suatu saat saya ke Surabaya, si Danik inilah yang akan saya buat repot. Dan untuk Miss Cha-cha, ada sebuah urusan yang belum selesai di antara kita…aihhh.

IMG_20160823_161443

Emesh-emesh gini tapi dia guru saya loh

Di kelas Grammar for speaking saya mendapat teman asik seperti Rio, Agib, Ikbal, Ayu, dan si Mbak-mbak Jawa yang super poll medoknya. Khusus Rio, dari dialah persepsi saya tentang orang Ambon berubah, ternyata Ambon yang satu ini begitu asik, kocak, dan suka galau. Walaupun dia bilang ke saya kalau orang Timur anti galau dan kalau ada orang Timur yang galau kasih cat putih aja.

Di kelas Crazy Pronounciation ada Nadia, Rere, Astri, Saiful, dan Mr. Miftah walaupun sekelas hanya berisi enam orang tapi cukup penuh canda tawa. Khususnya kepada Mr. Miftah yang rasanya membuat saya cukup paham tentang pronounciation, liaison, intonation, dan american accent. Terima kasih atas ilmunya.

IMG_20160825_200218

Lalu di kelas TOEFL, ada Azhari yang telah mengenalkan kepada saya bahwa Aceh itu tidak hanya tentang GAM, ganja, Perda Syariah dan Tsunami tapi di sana begitu kaya dengan wisata alamnya dan wisata kulinernya pun bervariasi. Juga ada Laila, ini bukan Laila yang ehem loh ya. Begitu kaget saya ternyata dia juga jurusan PAI semester 5 dan kuliah di IIQ, depan UIN persis!. Dia ini alim benar orangnya, tipe-tipe perempuan yang punya resistensi internal yang kuat terhadap pria. Mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu di sekitar UIN.

IMG_20160825_191246

Azhari di kanan saya dari foto dan Laila yang pake jilbab abu-abu

Selain teman kelas ada juga persahabatan yang terjalin secara random dan anehnya punya jalinan lebih kuat lagi. Mereka adalah Geng Kopet yang berisi dedek-dedek emesh angkatan 2014. Kenapa sih harus 2014, bikin keingetan aja…eaaaa. Awalnya saya kira mereka sudah berteman lama tapi ternyata antara satu sama lain juga baru saling kenal. Mereka ini tipe-tipe orang yang ke Pare tujuan utamanya selain belajar yaitu jalan-jalan, Saya pun baru kenal mereka dalam perjalanan ke Batu dan ternyata mereka semua tinggal di Bogor dan Cibubur. Mungkin karena cara celetukan dan becandaan yang hampir sama dengan orang Jakarta, kami cepat akrab. Pertemanan kami berlanjut sepulang dari Batu sampai sekarang.

Karena Geng Kopet ini termasuk daftar teman yang paling akrab dengan saya, maka saya sebutkan mereka satu persatu. Meidy, supel sekali orangnya dan lumayan berat sampai sepeda saya bergemeratak saat bonceng dia. Cuman sekali kok. Mila, namanya mirip adik saya dan dia ini yang paling alim di antara mereka berempat. Buktinya dia hanya mau salaman secara berjauhan, dengan angin sepoi-sepoi sebagai hijabnya.

IMG_20160825_193206

Yang paling depan si Meidy, nah yang lagi meliuk namanya Risma

Risma, ini anggota Geng Kopet paling sibuk bahkan di antara banyak perjumpaan dengan Geng Kopet, saya baru dua kali bertemu dia, satu saat kita ke Malang dan terahir saat menjelang dia pulang. Soraya, ini Geng Kopet paling kopet, selalu ikut saat jalan-jalan. Mungkin kenangannya lebih banyak tentang jalan-jalan ketimbang belajarnya.

IMG_20160825_191430

Paling pojok namanya Aya dan sebelahnya itu si Mila

Untuk eksistensi Geng Kopet, berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan mereka demi melanjutkan pertemanan yang kadung akrab. Katanya sih meet up selanjutnya mau ke Pulau Seribu. Oke saya tunggu!

Terakhir adalah dua orang yang amat spesial bagi saya. Namanya Bayu dan Rengga, mereka adalah penghuni kosan sebelah. Kami bertiga rasanya punya hobi dan jalinan takdir yang sama. Kami sama-sama hobi tidur siang, bahkan si Bayu selalu absen kelas karena bablas tidur siangnya. Di malam hari kami bertiga sering keluar untuk mencari indomie atau sekedar hunting pokemon.

IMG_20160825_190627

Rengga yang paling depan dan Bayu yang paling belakang

Anehnya, kami dipersatukan dalam lingkaran orang-orang putus cinta sehingga seputar obrolan kami tidak jauh dari ciwi-ciwi. Khususnya si Bayu yang sedang haus-hausnya, fyi dia ini anak S2 UPI dan bertekad untuk mendapatkan kosan campur yang murah, berisi gadis-gadis cantik Bandung, dan kamar mandi di luar. Dia saat ini juga sedang mengincar Depay, si anak Unpad 2014, kenalan kami di Pare. Terlalu haus akan kasih sayang sepertinya. Istighfar luh Bay!

IMG_20160825_200054

Hunting Pokemon dan ‘ciwi’ di Masjid Pare

Karena kesolidan kami itulah setelah Rengga dan Bayu pulang ke tempatnya masing-masing saya benar-benar kehilangan sosok. Tidak ada lagi teman untuk tidur siang, mencari pokemon, ke warkop, dan berdiskusi mengenai dedek-dedek emesh.

Maapkan jika terlalu panjang, tolong dimaklumi biasanya siklus baper-melankolis muncul di detik-detik menjelang kita meninggalkan suatu tempat di mana banyak kenangan lahir. Dan di titik inilah saya berada. Di titik inilah saya mendapatkan pencerahan, sebuah perspektif baru bahwa banyak hal positif yang kita dapat dengan meninggalkan kampung sendiri. Juga sebuah pencerahan bahwa tenaga, waktu, dan uang yang kita keluarkan untuk belajar di tempat yang jauh tidaklah sia-sia karena banyaknya ilmu, pengalaman, dan kawan yang kita dapat. Walaupun sekarang saldo saya sudah megap-megap, tapi saya benar-benar tidak peduli dengan itu semua. Toh, lagi-lagi uang bisa dicari dan untuk mengenyangkan perut, sekedar nasi dengan bebek bakar pun sudah cukup. Lah.

“Sampai jumpa Pare, andai sesuatu itu berjalan dengan lancar mungkin kita akan bertemu lagi di lain waktu…”