Menulislah Walau Tidak Ada Yang Baca

menulis, gigazine.net

sumber: gigazine.net

Tulisan ini berakar dari obral-obrol tentang kepenulisan dengan seorang teman. Intinya kita sama-sama super-duper awwam tentang ini tapi bedanya jumlah tulisan saya di blog sudah mendekati angka seratus sedangkan teman saya ini pecah telornya pun belum. Walaupun tekadnya untuk menulis sudah sebesar Gunung Uhud namun urung dikerjakan karena suatu alasan, takut tidak ada yang baca!!

Dalam hati saya berkata, apalah artinya tekad segunung jika akhirnya badai gengsi menggerus habis tekad menulis kita. Awalnya segunung tapi erosi akibat gengsi membuat tekad tinggal setipis daun layu yang hanya bisa pasrah diterbangkan angin. Saya juga baru sadar ternyata ada juga manusia yang enggan menggoreskan penanya hanya karena khawatir tulisannya tidak laku.

Walaupun saya masih merasa belum pantas untuk menyampaikan nasihat terkait dunia tulis-menulis tapi rasa gemas yang membuncah membuat lisan saya mengoceh juga. Saya berikan alasan saya menulis kepadanya, yasudah ketimbang ocehan saya menguap begitu saja mending saya tulis di sini dengan bahasa tulisan baku-formal tentunya. Barangkali di antara pembaca ada yang terjangkit virus ‘nyali’ yang sama dengan teman saya ini.

Pertama, bagi saya menulis adalah usaha untuk menghargai buah pikir. Pikiran kita kadang bekerja secara spontan dan refleks. Otak saya yang sudah terbebani berkilo-kilo mecin ini sering kali mencetuskan ide, gagasan, opini, quotes, bahkan kalimat galau dalam waktu yang tidak diduga. Sayang sekali jika saya tidak buru-buru mengikatnya dengan tulisan karena hal-hal berharga seperti itu biasanya lenyap dengan cepat. Jadi demi mengapresiasi pikiran ‘eureka’ yang timbul, maka menulislah saya.

Kedua, masih seputar otak. Pernah dengar kalimat use it or lose it? Nah, otak kita juga demikian. Daripada saya menghabiskan semua waktu saya demi menangkap pokemon, lebih baik saya sisakan sedikit untuk hal yang lebih berguna bagi otak saya. Membaca atau menulis. Membaca relatif lebih ringan karena otak kita hanya dituntut fokus pada sederet tulisan yang tercetak tapi jika mau lebih berat maka menulislah. Menulis kadang menjadi senam otak yang paling melelahkan karena saya bukan hanya dipaksa untuk fokus tetapi juga dipaksa untuk mencari kata, mengatur kalimat, membangun ide, dan melakukan finishing touch demi mengakhiri tulisan dengan indah. Memang membuat otak saya pegal, tapi setelah tulisan rampung ada kepuasan intelektual tersendiri yang dirasakan.

Ketiga, motivasi untuk menyampaikan pesan kepada orang lain mulai timbul. Bukan untuk mengkuliahi orang loh ya, bahkan tulisan saya lebih banyak tentang curhatan-curhatan yang memang murni ingin saya sampaikan. Bahkan tulisan tentang keislaman pun sebenarnya lahir dari keresahan dan kegalauan yang sering saya rasa. Begini juga teman-teman, karena saya sadar saya ini insan yang berlumpur dosa, maka saya niatkan tulisan saya—yang adaikata bermanfaat bagi orang lain—akan menjadi tabungan kebaikan saya di akhirat kelak.

Keempat, barulah kiranya saya ingin tulisan saya dibaca orang lain. Namanya juga manusia yang butuh pengakuan akan eksistensinya. Saya yakin tiap orang punya caranya masing-masing untuk menunjukkan bahwa dia hadir, dia mentas, dan dia ingin terhubung dengan yang lain. Foto di puncak gunung di IG, foto kuliner di Path, video-video di Youtube, kata-kata hikmah di Tumblr, debat di Fesbuk atau apapun itu, sejatinya adalah media pembuktian eksistensi. Begitupun blog saya, inilah tulisan saya, kombinasi antara otak yang panas dan hati yang mood. Jadi perasaan senang jika tulisan saya dibaca orang adalah natural, fitrah by default.

Pertanyaannya, apakah jika tidak satupun yang membaca maka saya akan berhenti menulis? Tidak sama sekali!! Masih ada dua alasan utama yang mewajibkan saya menulis. Demi menajamkan otak, maka saya akan selalu mengetikkan jari saya di laptop walaupun hanya untuk merangkai kata, “Give me your hands and I’ll keep you with all of my soul and body” eaaa galau tak berujung. Ya intinya saya bakalan tetap menulis, begitu.

Nah, siapapun yang masih ragu untuk menulis karena takut tidak ada yang baca atau ngeri tulisannya dibilang jelek, tetaplah menulis! Menulislah untuk merayakan ide yang lahir dari pikiran, menulislah untuk mencapai kepuasan intelektual, dan menulislah untuk kebahagiaan diri sendiri. Menulislah tanpa pikir panjang, karena tulisan yang jelek tetaplah lebih baik ketimbang tidak ada tulisan.

Jadi masih takut untuk menulis? Atau jangan-jangan bukan takut tapi memang malas menulis? Tapi jujur, menulis memang rada melelakan, makanya itu saya sudahi saja tulisan saya. Capek juga ueey otak hehe…semoga bermanfaat.

Tidak ada resep yang paling hebat untuk menulis selain menulis, menulis, dan menulis.—si fulan.