Syarat-syarat Menjadi ‘Seksis’ di Era Kekinian

Kalau Pembaca yang budiman masih aktif bermain di Fesbuk pasti kalian begitu familiar dengan link-link provokatif, posting-posting satir, dan debat ilmiah yang pake urat. Saling bela, saling cela, saling injak, saling beradu dalil adalah perihal maklum, sangat biasa, sebiasa saya menyeruput teh di pagi hari.

Lantas siapa oknum-oknum yang meramaikan semesta Fesbuk? Merekalah pihak-pihak yang sedang memperebutkan hagemoni wacana, baik itu masalah politik, ideologi, ataupun keagamaan. Kalau ada postingan Pokemon Go atau Sidang Jessica jilid 2000 di Fesbuk, itusih hanya iklan yang tak begitu menarik perhatian. Senangnya kita bergumul dengan politik, ideologi, dan keagamaan karena itu semua membuat kita terlihat lebih intelektual, seksis, dan kekinian. Ya gak sih? Akuin ajah!

Tapi ada fenomena yang saya pikir sedikit berat sebelah di sini. Sebuah ketimpangan cara berpikir dalam memberikan label kepada salah satu pihak. Ternyata, tidak semua postingan, komentar, argument di Fesbuk terlihat ‘seksi’ lho. Salah-salah memposting dan berargumen kita bisa dicap kolot, konservatif, dan ekstrem. Bahkan argument seilmiah apapun harus bertekuk lutut dengan opini publik tentang jenis-jenis ‘seksi’ dan lawannya alias ekstrim, kolot, tak berpendidikan dan sebagainya.

Nah saya akan kasih tahu rahasianya jika anda ingin dicap sebagai intelek, seksi, dan kekinian. Dan sebaliknya, anda bisa apes disebut bebal, kolot, ekstrim jika kebetulan memiliki pandangan yang bersebrangan.

Dalam ranah ideologi, jika mau dicap ‘seksi’ maka junjung tinggilah komunisme. Beradalah di samping kelompok yang sangat anti dengan rezim orde baru dan mengharuskan TNI untuk meminta maaf dengan para korban kekerasan HAM pasca 65. Berdalihlah dengan semangat kekiri-kirian, jadilah pakar teorinya Karl Marx, Engels, atau sekalian Lenin dan Mao Zedong, dalam sekejap anda akan terlihat seksi dan amat progresif!! Lalu dengan semangat membara menyalahkan militer atas pembantaian oknum-oknum PKI namun di saat yang sama seakan pura-pura tidak tahu kalau PKI memang kejam. Mau bukti? Tanya kakek saya yang alhamdulillah masih hidup, beliau cerita memang PKI mau nangkepin para kyai dan guru ngaji kok. Kalau pihak-pihak progresif sumbernya buku-buku, cukuplah saya sumbernya kakek saya. Dalam teori periwayatan, sami’tu (mendengar) ada di posisi paling atas loh, apalagi ini kisahnya mutawattir (periwayatan banyak saksi yang tidak memungkinkan adanya sebuah kebohongan).

Eaaa maap kalau ada yang tersinggung, tapi saya gak ngebuka kolom debat kusir dulu ya.

Dalam ranah politik, akhir-akhir ini pasti perhatian kita tersedot oleh pilkadi DKI yang tinggal menanti detik. Ga deng lebay. Pokoknya tinggal sedikit lagi lah ya. Ini banyak beriirisan dengan kegamaan jadi saya jadikan satu saja. Mau terlihat seksi? Dukunglah Ahok dengan segenap daya dan upaya anda, blow up lah segala kebagusan Ahok walaupun di saat yang sama anda harus menutupi segala boroknya. Kalau masih kurang ‘seksi’ silakan bantah orang-orang yang menggunakan dalil pelarangan non-muslim sebagai pemimpin. Bantahlah menggunakan kekuatan dalil yang sama kuat dan tafsir yang sama kredibel. Jika anda tidak memiliki ilmunya cukuplah dengan men-share postingan cendikiawan-cendikiawan kontemporer yang satu pemikiran dengan anda. Aihhh…selamat anda sudah menjadi ‘seksi’!!

Lalu di mana ketimpangan itu terjadi? Ketika sebuah wacana sedang diperebutkan oleh dua pihak, percayalah bahwa masing-masingnya adalah antitesis dari yang lain. Lucunya, mereka yang seakan seksis dan kekinian ini sering melabeli lawannya sebagai yang ekstrim, mereka lupa bahwa sebetulnya mereka juga berada di titik ekstrim yang lain. Yang berbeda hanya kutubnya saja!! Sepertinya sah saya katakan jika mereka yang ‘seksis’ ini ada di kubu yang timbangannya lebih berat ke arah liberal, dan lawan diskursusnya lebih berat ke arah konservatif. Tapi sedihnya, mereka itu sama, mereka itu sejenis, mereka radikal dari jenisnya masing-masing!!

Saya tidak mau menilai mana yang benar dan salah. Titik tekan tulisan saya adalah sebuah asumsi yang terlanjur terbentuk untuk label mana yang ‘seksi’ dan mana yang bukan. Mungkin takdir lebih berpihak kepada radikal tipe liberal, karena keradikalannya dilabeli ‘intelek, seksi, dan kekinian’ sedangkan bagi radikal yang satunya harus apes distempel, ‘ekstrim, bebal, dan kolot’. Intinya radikal di pendulum yang lain menjadi rawan bully, oh poor you.  Tapi melalui tulisan ini saya juga mau berpendapat bahwa tidak usahlah kita takut dibilang ektrim dan sejenisnya. Junjunglah apa yang menurut kita benar jika itu bersandar dari ilmu yang benar pula. Perbedaan pendapat, betapapun tajamnya adalah hal lumrah, selumrah kita eek di pagi hari.

Duh maapken jika ada yang tersinggung, saya hanya membagi keresahan saya selama ini. Tidak usahlah terlalu radikal, apapun prinsip yang kita pegang. Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Compassion mengatakan bahwa tidak ada gunanya melawan sebuah radikalisme dengan sikap yang radikal pula. Bukannya lenyap, radikalisme malah akan tumbuh subur jika terus dipupuki kebencian dan disirami permusuhan.

Sudah ya manteman. Yuk kembangkan sikap empati terhadap sesama walaupun itu musuh kita. Empati mungkin menjadi sikap yang layaknya selalu kita tampilkan, sebuah sikap untuk menyelami perasaan dan keadaan orang lain dan mengidentifikasi diri kita sebagai orang lain tersebut.

Andai kita semua saling empati, mungkin Fesbuk bisa bangkrut,tapi rasa-rasanya tidak mungkin. Yasudah, berempatilah dengan kadar kita masing-masing! kelar perkara.

Sudah yap pusing pala Abang…semoaga bermanfaat…bye bye