Mencacah-cacah Tipe Ulama, Ketika Saya Sok Tahu

Sudah lama saya mencoba mengamati tipe-tipe ulama yang ada di Indonesia, baik itu dari lanskap pemikiran maupun sikapnya. Mengapa saya begitu tertarik? Karena menurut saya perbedaan karakter di antara ulama mempunyai andil besar terhadap dinamika sosio-regio-kultural yang terjadi di masyarakat yang semuanya cenderung bermuara pada penajaman perbedaan pendapat di jagad medsos.

Ini sebetulnya fenomena yang amat menarik dan perlu pengkajian serius, bukannya tulisan asal-asalan macam begini. Tapi tak apalah, anggap saja tulisan ini buat seru-seruan. Oke!

Karena ulama itu juga manusia, maka perbedaan di antara setiap ulama adalah fitrah, sebuah keniscayaan. Latar belakang budaya, pendidikan, sikap, lingkungan, dan pengalaman selalu memberikan identitas unik di antara mereka. Pemahaman dan sikap keagamaan mereka amatlah varian, membentang secara gradual dari A sampai Z. Di sini saya coba ringkas mereka menjadi empat tipe:

Pertama, ulama tipe sufi-filsuf. Ulama jenis pertama ialah ulama yang memiliki sikap dan akhlak yang kesufian dan pemikiran kritis ala filsuf. Mungkin, Gus Mus dan Cak Nun ada di posisi ini. Mereka ini identik dengan kesahajaan gaya hidup, secara pemikiran mereka tipe yang lebih mengutamakan substansi daripada formalitas. Islam mereka bolehlah saya sebut cenderung kepada Islam hakikat ketimbang Islam syariat. Diakibatkan kelenturan pemikiran ala substansialis, mereka cenderung bersebrangan dengan segala pemikiran yang kolot, harfiah, dan serba syariat.

Kedua, ulama tipe kekiri-kirian. Ulama tipe kedua adalah ulama yang amat kontekstual. Cenderung sering meminggirkan teks keagamaan jika itu tidak sesuai konteks atau wacana yang sedang berkembang di masyarakat. Pemikirannya amat lentur tapi di satu sisi sikapnya sering menunjukkan gejala radikal, terlebih dengan pihak-pihak yang berbeda pemahamannya. Ulil Abshar dan Kang Hasan (tau dari Fesbuk) mungkin menjadi contoh terbaiknya.

Ketiga, ulama tipe konservatif. Ulama jenis ketiga adalah tipe ulama yang menjaga tradisi dan budaya keislaman urban. Karena ulama-ulama inilah nilai-nilai keislaman di Indonesia tetap lestari. Budaya Maulid, tahlilan, nisfu sya’ban adalah contoh budaya Islam Indonesia yang bertahan karena eksistensi mereka. Pemikiran keislaman mereka walaupun lebih singkretis tetapi cenderung resisten dengan setiap perubahan. Habib Rizik, para habib dan kyai-kyai pada umumnya mungkin contoh paling akurat dari tipe ini.

Keempat, ulama tipe salafi. Ulama jenis keempat adalah ulama yang berniat membawa perubahan di Indonesia. Menghapus segala bid’ah dan tradisi-tradisi yang tidak ada presedennya di masa Nabi. Purifikasi atau pemurnian Islam menjadi target utamanya. Itulah mengapa jargon “kembali kepada generasi salaf” sering manjadi tagline dalam dakwahnya. Biasanya, ulama tipe ini sangat skripturalistik dan menekankan pembacaan harfiah akan dalil-dalil keagamaan.

Sekarang di mana masalahnya?

Sebetulnya perbedaan di antara mereka adalah rahmat, ya ga? Ya betul, jika kita memaknai perbedaan di antara mereka sebagai sebuah lokus yang mengkotak-kotaki arus masa dalam jumlah yang sehat. Tapi bisa juga saya katakan bahwa perbedaan tipe inilah yang menjadikan massa akar rumput sering gaduh di ranah medsos.

Saya percaya bahwa keempat tipe ulama tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Pendukungnya inilah yang berandil besar menjadikan ulama-ulama panutannya berada saling berhadap-hadapan satu sama lain. Terutama pendukung yang taqlid buta dan pendukung yang berbasis karena kepentingan. Merekalah yang dengan senang hati men-share, baik itu fatwa, opini, tafsir dari ulama panutannya ke media sosial. Tidak sedikit dari mereka yang meyakini apa yang disebarkannya adalah sebuah kebenaran absolut. Nah, di saat umpan yang disebar itu dimakan oleh pendukung ulama yang kebetulan pemikirannya bersebrangan, terpiculah sebuah ledakan debat berantai di Fesbuk.

Uniknya, ada dinamika silih berganti yang terjadi di antara ulama-ulama ini. Ada kondisi di mana kadang mereka akur, kadang mereka berselisih. Contohnya adalah, jika membicarakan masalah maulid, tahililan, atau kegiatan ritual lain yang berbaukan nusantara, maka ulama tipe Salafi akan berbenturan dengan ketiga tipe ulama di atas. Tapi perlawanan paling kuat akan datang dari ulama Konservatif yang merasa budaya keislamannya sedang terancam. Sedangkan, di saat pilkada Jakarta, justru ulama tipe Konservatif mendapat dukungan penuh dari ulama Salafi, keduanya menjalin persekutuan solid, bertarung argument dengan tipe kekiri-kirian yang kadang kala disokong oleh pendapat Ulama sufi-filsuf.

Memang, kalau dilihat dari spektrum pemikiran, ulama tipe sufi-filsuf akan sering beririsan dengan ulama tipe Kekiri-kirian. Maka itu jangan heran kalau Cak Nun dan Gus Mus sering kali dicap liberal, terlebih para muslim kiri yang sering kali mendompleng nama besar mereka sebagai pembenaran argumen. Sedangkan, yang saya lihat tipe Salafi akan selalu bentrok dengan tipe Kekiri-kirian. Entah kenapa, ada semacam prasangka yang mengembang di antara dua kelompok ini. Keduanya saling menaruh curiga yang sering kali berbuntut adu sangar gagasan. Mereka saling menciptakan antitesisnya masing-masing, dua kutub radikal yang berlawanan.

Nah, masalah lain yang harus diperhatikan adalah mayoritas pendukung para ulama itu biasanya fanatik buta. Mereka mengamini segala hal yang keluar dari patron mereka dan sering kali memicu perselisihan dengan kubu lain. Fanatisme buta adalah titik rawan, karena para biang kerok dan provokator selalu memiliki ide untuk mengompor-ngompori perbedaan demi memantik keributan. Perbedaan pandangan yang amat tajam jika tidak disikapi secara arif ibarat gas yang hanya butuh sedikit api untuk meledakannya.

Mirisnya lagi, ketika akar rumputnya saling berebut wacana, maka pendukung kalangan terdidiknya akan ikut-ikutan dan terus begitu sampai sang ulama harus turun tangan juga, adu kuat untuk mempertahanan argument. Yasudah, keributan tak berujung selalu terselenggara .lantas bagaimana dengan saya? Yasudah saya coba sok tahu aja tentang mereka sambil makan kacang.