Blunder Berkelanjutan, Kegagapan Nusron Wahid dan Hamka Haq dalam Membela Ahok

nusron

sumber: Kabarhoki.com

Saya bergairah sekali menonton ILC kemarin, saya mau tahu kira-kira apa argumen logis yang akan disampaikan pembela Ahok terkait dengan perkara Ahok tempo lalu. Kalau saya di sisi pembela Ahok mungkin akan sangat susah menyusun kalimat pembelaan karena amat sulit membela sebuah kesalahan. Saya penasaran apa kira-kira yang akan disampaikan mereka.

Beberapa pembelanya lebih diplomatis, mengakui blunder Ahok tetapi tetap menunjukkan bahwa sikap Ahok yang meminta maaf itu berjiwa ksatria dan umat Islam yang tersinggung seharusnya memafkan. Secara dialektika ini bagus, inilah langkah teraman tapi bagi yang mengharapkan diskusi panas maka ini belum bagus.

Setelah giliran Hamka Haq bicara, situasi baru mulai menegang. Dia membela Ahok habis-habisan walaupun bagi saya caranya agak memalukan, terlebih dia itu Profesor. Dia berkata kalau yang harus minta maaf adalah si Buni Yani, karena berkat wasilah Buni Yani itulah umat geger. Potongan video 31 detik hasil unggahannya menjadi biang kerok masalah. Dia memberikan bukti, bahwa video yang diunggah secara full—1 jam 48 menit (kalau gak salah)—tidak pernah memicu konflik. Hmm 1 jam 48 menit, kenapa ga memicu konflik? Ya jelas karena durasi selama itu tidak akan memicu orang untuk nge-youtube yang isinya ceramah. Ngapain juga, ngabisin kuota, waktu, dan bosenin. Mending donlot film. Itu kalau logika saya.

Pembelaan Hamka Haq tentang kepemimpinan Quraisy dan periode hijrah ke Etiophia yang rajanya penganut Nasrani juga sangat rawan celah. Jelaslah Rasul membiarkan Makkah dipimpin kafir Quraisy pada dakwah beliau karena posisi Islam belum kuat. Ketika kuat ya diambil alihlah Makkah, mau bukti? Ya itu Fathu Makkah. Nah, bagaimana tentang hijrahnya sebagian muslim ke Etiophia (Abbisinia)? Saat itu adalah posisi genting di mana perlakuan kafir Quraisy semakin semena-mena, maka yang tidak tahan lagi dengan penderitaan dipersilakan untuk hijrah. Loh, kan pemimpinnya kafir? Begini, jika di antara lima (agama, nyawa, keturunana, akal, dan harta) sedang terancam, maka syariah mengizinkan cara dan penanganan darurat untuk menyelamatkan lima unsur vital kemanusian.

Lagipula lucu juga jika ini dijadikan hujjah karena saat itu jika mau hijrah ke wilayah manapun ya umat Islam akan berada di bawah lindungan pemimin non-muslim, wong Rasulullahnya ada di Makkah.  Tapi menarik untuk disimak bahwa Rasulullah memilih Raja Negus sebagai tempat berlindung bukan hanya karena kemurahan hatinya, tetapi ke-Nasranian Raja Negus ini cenderung pada Nasrani dalam bentuk aslinya. Dia menyetujui pemaparan Ja’far bin Abdul Muthalib tentang kedudukan Isa sebagai utusan Allah bukan Tuhan. Bahkan dalam beberapa riwayat dikatakan Raja Negus wafat dalam keadaan muslim.

Lalu kita beralih ke Nusron Wahid.

Nusron Wahid lebih dahsyat lagi, saya shock sendiri melihat betapa sangarnya dia. ini sangar beneran! Dengan wajah yang galak plus matanya yang melotot. Saya mau beri respon tentang pembelaannya, Nusron dengan gagahnya bilang bahwa di zaman Khalifah al-Mu’tadid billah, sang khalifah pernah menunjuk seorang Kristen sebagai gubernur. Ada dua hal yang mau saya komentari, Nusron Wahid menyebut nama khalifah al-Mu’tadid billah sambil diulang-ulang untuk memberi penegasan tentang gelar yang berakhiran ‘billah’ adalah sesuatu yang suci. Oh Men, padahal hampir semua khalifah diberikan gelar semacam itu, contohnya Al-Mu’tashim billah, Al-Mustanshir billah, Al-Muqtadi billah dan masih banyak lagi. Pemberian gelar berakhiran ‘billah’ sangat lazim untuk khalifah di masa Abbasiyah, jadi pengulangan untuk memberi kesan sakral malah terkesan kurang cerdas.

Yang kedua, bayangkan pemerintahan Abbasiyah yang berusia kurang lebih 508 tahun tetapi hanya segelintir kejadian di mana non-muslim di angkat sebagai pemimpin sebuah wilayah. Ini jelas sebuah kejadian di luar kebiasaan bukan? Nusron bilang “Apakah saat pengangkatan tersebut tidak ada surat al-Maidah?” maka saya jawab, “Ada, sebagaimana adanya surat al-Maidah ketika pemimpin-pemimpin muslim lain terpilih”. Itu baru dari masa kekhalifahan Abbasiyah loh ya, jika seluruh fase dinasti Islam digabung dan diperbandingkan antara jumlah pemimpin muslim dan non-muslim, maka statistik mengenaskan tentang rendahnya presentase pemimpin non-muslim akan tersaji. Mau disajikan? Jangan ntar malu.

Nusron Wahid juga berkata, “Yang paling mengetahui tafsirnya hanya Allah dan Rasul-Nya”. Yaiyalah, nenek-nenek sembelit juga tahu. Lalu dia penghujung pembelaannya dia berkata, “Perkataan Ahok hanya Ahok sendiri yang tahu”, seolah-olah masyarakat tidak boleh mengambil kesimpulan dari perkataan Ahok karena masyarakat tidak tahu maksudnya. Inilah titik paling menggelikan di antara semua perkataan Nusron. Entah mungkin karena pikirannya sudah limbung ditambah emosinya sudah klimaks. Tidak disangka Nusron ingin menyelamatkan Ahok dengan logika dangkal macam itu yasudah saya terpaksa tertawa mendengarnya,

Ternyata memang tidak mudah membela sebuah kesalahan, kecuali jika ingin melahirkan kesalahan baru. Ketika Ahok blunder, pembelanya pun blunder. Tapi karena Ahok sudah meminta maap maka selayaknya kita umat muslim membukakan pintu maap tapi proses hukum tetap harus berjalan dengan adil.

Terakhir, saya juga menyayangkan ketika KH Tengku Dzulkarnain malah memaparkan konsekuensi yang harus diterima Ahok berdasarkan hukum Islam. Bukan hanya karena hukumnya itu pun masih diperdebatkan, tapi penyebutan secara gamblang tentang eksekusi fisik khas Islam (potong tangan, pemotongan silang dll) masih menjadi alergi tersendiri di kalangan muslim Indonesia. Pada akhirnya ini bisa menjadi bahan bully pihak-pihak yang anti MUI untuk mendeskreditkan MUI dan ujungnya sudah bisa terbaca, ulama secara keseluruhanlah yang terkena imbasnya. Riweh ya?

Terakhir (lagi), anda semua dibebaskan untuk menafsirkan al-Maidah. Yang tidak boleh adalah anda memonopoli tafsir versi anda sendiri. Bebaskan semua orang memilih, mana tafsir yang lebih sesuai untuk keadaan mereka. Dilarang panik ya oke…oke!

Yasudah itu aja. Semoga bermanfaat.