Konsekuensi Simbol dan Polemik Fatwa MUI

mui

mui.or.id

Setelah MUI mengeluarkan fatwa yang berisi adanya pelarangan pemakaian atribut Natal bagi seorang muslim, kasak-kusuk suara negatif menyerbu. Kebanyakan dari sesama Muslim yang agak ‘liberal’, tak ketinggalan cendikiawan Muslim maupun beberapa kyai mengkritik fatwa ini, atas nama toleransi katanya. Biasanya para pejuang toleransi ini berdalil, bahwa para kaum konservatif sangat terpaku pada simbol. Topi Santa dan pohon cemara hanyalah simbol tidak usah dipermasalahkan. Memakai pernak-pernik umat Kristiani tidak akan menjadikan Anda auto-murtad (meminjam istilah Gus Nadir). Substansi keislaman seorang Muslim tidak akan terancam hanya dengan mengenakan itu semua. Jadilah Islam substansial jangan Islam formal, begitu kata mereka. Fatwa MUI ujung-ujungnya hanya meresahkan masyarakat. MUI tersudutkan dan sedang mengalami penggerusan kredibilitas.

Saya merenungi dalih mereka di atas, ada benarnya tapi kalau anda merenungi lebih dalam harusnya anda menemukan keganjilan yang mendasar. Begini, pada dasarnya semua simbol itu kosong makna dan kitalah yang memberinya arti. Contohnya adalah angka 5 yang sebenarnya tidak berarti apapun sebelum manusia sepakat bahwa itu adalah sesuatu sebelum 6 dan sesudah 4. Barulah 5 berarti sebagai ‘sesuatu’ dan memiliki konsekuensi. Kini anda harus perlakukan 5 pada tempatnya, anda bisa dihujat guru matematika jika berkata sejuta tp menulisnya 5.000.000.

Beralih pada simbol dan atribut keagamaan, semuanya memiliki ragam konsekuensinya masing-masing. Peci, jilbab, baju koko adalah simbol Islam yang menghadirkan sebuah marwah keislaman yang khas. Pemakaianya secara otomatis memancarkan aura keislaman yang kita kenali tanpa harus bertanya lebih dalam. Simbol pada akhirnya berkelindan dengan identitas, melekat dengan harga diri, dan menentukan perasaan.

Identitas, harga diri, dan perasaan ini semuanya sebjektif. Setiap individu memiliki kadar penerimaan berbeda akan ketiga hal tersebut. Saya menginjak-injak fitrah anda jika saya memaksakan agar perasaan anda harus se-frekuensi dengan perasaan saya. Begitulah, pihak yang mengatakan bahwa, “Kaum konservatif hanya terpaku pada simbol dan karyawan Muslim seharusnya tidak mengeluh jika disuruh mengenakan atribut Kristiani” pada dasarnya telah memaksakan kehendak. Maaf jika saya kurang sopan, tapi menurut saya mereka berlagak toleran dengan cara yang intoleran.

Gampangnya begini, maukah anda yang pria saya suruh untuk keluar rumah mengenakan rok pendek dan legging. Kalau anda menolak, saya bisa katakan kalau rok dan legging itu hanyalah simbol, keduanya tidak akan mengubah secara otomatis produksi sperma anda menjadi ovum toh? Jadilah pria substansial jangan pria formal! Ketika beberapa cendikiawan muslim juga berdalih atas nama simbol, saya balik bertanya, maukah mereka berceramah jika panitia Istighasah menyaratkan anda memakai pakaian pastur dalam rangka toleransi tanggal 25? Jujur saya ragu mereka bersedia. Inilah konsekuensi simbol, menentukan secara telak perasaan, harga diri, dan integritas seseorang. Anda hanya membonsai perasaan kemusliman seseorang jika anda mencibir mereka yang enggan mengucapkan selamat Natal apalagi saat mereka menolak menggunakan atribut Kristiani.

Dalam kerangka inilah fatwa MUI terbentuk. Esensi fatwa MUI akan efektif untuk melindungi perasaan dan harga diri umat, terutama para karyawan yang biasanya disuruh untuk mengenakan pakaian ala Santa. Anda lagi-lagi boleh berdalih kalau sebenarnya MUI tidak usah berfatwa demikian, cukup para karyawan lapor polisi jika ada agenda pemaksaan. Ah alasan basi, di tengah perekonomian yang loyo dan sulitnya mencari pekerjaan baru, resiko pemecatan adalah titik lemah yang bisa saja dieksploitasi para pengusaha tiran. Jika saya jadi karyawan, dibanding dengan pemecatan, menjadi si bisu yang penurut lebih masuk akal. Pernahkah logika anda berpikir demikian hai para pemuja toleransi?

Inilah yang dirasakan genting oleh ulama MUI dan akhirnya fatwa MUI memberikan kekuatan legal-formal bagi mereka yang bisa saja perasaan dan karirnya terancam. Fatwa ini tidak mengikat kok, kalian yang muslim dan bersedia memakai atribut Natal tidak terkena dengan fatwa ini. Biar lebih fair, sebenarnya fatwa MUI dalam versi lengkap juga melarang para bos-bos muslim menyuruh karyawannya yang non-Muslim untuk menggunakan atribut Islam ketika periode Hari Raya Islam. Tenang, fatwa ini bekerja dua arah dan menurut saya masih dalam batas toleran. Saya kira saudara kita yang Kristiani mengerti betul psikologis ini, ironisnya yang sering gagal paham dan ahli sindir adalah muslim sendiri yang doyan memainkan politik identitas.

Masih tentang simbol, saat Rasulullah bermusyawarah tentang simbol pemanggilan shalat, Rasul menolak usul pemanggilan dengan lonceng karena identik dengan Kristen, pun begitu dengan terompet karena identik dengan Yahudi. Akhirnya disetujuilah adzan sebagai metode untuk memanggil orang shalat. Andai Rasul menerima salah satu dari simbol itu, saya yakin sejarah akan banyak berubah. Simbol itu penting bukan?

Oiya, saya bukan maniak simbol, tulisan ini sekedar perasaan resah saya bagi orang-orang yang mereduksi habis makna simbol. Saya bukan anti pernak-pernik Kristiani, bahkan Donal Bebek versi Natal selalu menjadi bagian yang paling saya suka, film Natal pun seru-seru. Saya turut bahagia juga dengan perayaan Natal. Jika ada teman Muslim saya mengenakan kostum Santa Claus saya tidak akan menyinyir, malah saya akan tertawa di depannya sambil memberikan kaos kaki saya, mungkin nanti diberi cincin emas untuk mahar eaaa.

Sudahlah teman, hargai perasaan saudara Muslim kita yang berbeda, pun hargai MUI yang telah bersusah payah menelurkan fatwa. Fatwa ini demi kebaikan umat walaupun MUI harus sedia menerima resiko dibully oleh mereka yang sudah dari awal sentimen dengannya. Marilah nyalakan lilin kesepahamahan di antara kita, jangan padamkan apinya dengan kebencian.

Ini hari yang berbahagia–terlepas dari ragam pandangan–hari kelahiran Nabi Isa berarti hari yang penting bagi tiga agama monoteis (Islam, Nasrani, dan Yahudi). Beliau Nabi pilihan, maka itu mari kita curahkan shalawat serta salam untuk beliau, Nabi Isa alahissalam.

Sekian. Selamat berbahagia.

Advertisements