Keikhlasan yang Tercemar

Suatu ketika seorang murid ingin mengunjungi gurunya. Memang sudah menjadi kebiasaan baik jika bertandang ke rumah orang lain apalagi guru maka diajarkan untuk membawa sesuatu untuk tuan rumah. Kebetulan, murid ini hanyalah anak dari keluarga pas-pasan. Ia hanya membawa 3 ikat singkong untuk dia tenteng ke rumah gurunya.

Setibanya di rumah guru, ia langsung memberikan singkong bawaannya. Sang guru menerimanya dengan senang hati. Setelah menyelesaikan urusan dengan gurunya dan pamit pulang, sudah menjadi kebiasaan pula bahwa tuan rumah membalas pemberian dari tamuya. Beberapa saat, si guru celingak-celinguk mencari sesuatu yang bisa ia berikan sebagai oleh-oleh. Namun ia tidak menemui apa pun, maklum karena sang guru juga hidup sangat sederhana. Ternyata, ia teringat Ia mempunayi seekor ayam bekas pemberian seseorang, dengan cepat ia mengambil ayam tersebut lalu diberikannya kepada murid untuk dibawa pulang. Jelas, sekali murid sangat senang, bukan hanya ia bisa menjumpai gurunya tapi juga sekarang malah ia membawa satu ekor ayam!

Ditengah perjalanan pulang, si murid bertemu dengan kawannya. Melihat temannya menenteng-nenteng ayam, teman si murid bertanya heran, “Dari mana kamu?”. Si murid menjawab, “Oh, tadi aku habis dari rumah guru”. “Terus dari mana ayam itu?” tanya temannya. “Ini dari guru, padahal aku tadi hanya membawa singkong, tapi guru baik sekali malah memberiku ayam” jawab murid sambil tersenyum. Memang dua pemuda ini sama-sama murid si guru tadi.

“Wah, dia saja pergi memberi singkong lalu ketika pulang diberi seekor kambing, mungkin kalo aku memberi guru kambing aku akan membawa pulang seekor kerbau!!” gumammnya dalam hati. Tanpa menegur temannya lagi, ia berpaling tergesa-gesa menuju rumahnya. Akal piciknya mendominasi untuk mengharapkan balasan yang lebih. Kini yang ada di otaknya hanyalah kerbau dan kerbau.

Kebetulan sekali ia punya satu-satunya kambing yang telah dipeliharanya sejak kecil. Sebetulnya ia sangat sayang dengan kambingnya tapi apa daya jika ditukar oleh kerbau itu tidak akan ada apa-apanya. Langsung saja sekarang ia menuju ke rumah gurunya dengan harapan yang sangat tinggi.

Setibanya di rumah guru, ia langsung memberikan kambingnya. Guru menerimanya dengan baik. Sebetulnya ia tidak punya urusan apapun dengan gurunya, oleh karena itu ia berpura-pura menanyakan sesuatu agar bisa dijadikan alasan untuk menemui gurunya. Setelah urusannya kelar, dengan cepat si murid pemait pulang. Sebelum pulang sang guru berkata, “Tunggu, aku ada sesuatu untukmu”. Si guru rupanya sangat baik jadi orang yang bertamu pasti sedemikian rupa dibalas pemberiannya.

Dengan perasaan melambung dan pede, si murid menunggu. Ia sangat yakin sekali pasti gurunya memberikan balasan yang lebih, yaitu kerbau!. Sekali lagi si guru, mencari-cari kiranya apa yang bisa diberikan kepada muridnya, tetiba ia teringat akan singkong yang diberikan oleh muridnya. Akhirnya, sang guru dengan sangat ikhlas memberikan 3 ikat singkong kepada muridnya untuk dibawa pulang.

Si muris kaget bukan main! Tapi ia tidak bisa menunjukkan kemarahannya di depan gurunya. Dengan segera ia pamit pulang. Bukan main kesalnya perasaan si murid. Harapannya akan kerbau sirna seketika dengan 3 utas singkong. Sekarang ia pulang dengan wajah cemberut, karena kambing satu-satunya ditukar oleh singkong!

Dari kisah klasik ini, terlihat betul watak kebanyakan dari kita. Kadang kita memberi bukan karena ketulusan tetapi karena mengharap balasan lebih. Padahal jika kita lakukan itu, pasti hanya kerugianlah yang kita dapat apalagi jika harapan tidak kesampaian seperti kisah di atas.

Sebetulnya, bukan hanya kepada manusia. Kepada Allah saja kita sering seperti itu, contohnya, banyak orang yang memperbanyak membaca surat al-Waqiah agar cepat kaya, memperbanyak tahajjud agar rejeki terus mengalir, dan memperbanyak sedekah dengan harapan Allah akan memberikan harta yang berkali-kali lipat dari pemberian kita. Memang agama tidak melarang itu semua, tapi sebaiknya motivasi seperti itu jangan dijadikan prioritas, tetap pertama-tama kita melakukan segala macam ibadah itu untuk memperoleh ridha Allah atau mengharap pahalanya. Karena, apabila tujuan utamanya adalah kekayaan, resikonya ada dua; ia akan berhenti beramal ketika ia tidak juga mendapatkan kekayaan atau ia akan berhenti beramal ketika ia sudah kaya. Tetapi jika motivasinya adalah untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah maka mau ia tidak kaya ataupun ia menjadi kaya raya, ia akan tetap istiqomah dengan amalannya.

Advertisements

Kisah-Kisah Favorit-Nelayan Meksiko

Di sebuah desa nelayan Meksiko yang tentram, seorang Amerika yang sedang berlibur melihat nelayan setempat baru saja pulang dari melaut pagi hari. Si Amerika yang merupakan profesor sukses tidak tahan untuk memberikan sedikit wejangan gratis kepada di nelayan Meksiko.

“Hai!,” sapa si Amerika, “Mengapa pagi-pagi anda sudah pulang dari melaut?”

“Karena saya sudah mendapat cukup ikan, senor” jawab si Meksiko yang ramah itu., “Cukup untuk memberi makan keluarga saya dan sedikit kelebihannya untuk dijual. Sekarang saya akan makan siang bersama istri saya dan, setelah tidur siang sejenak, saya akan bermain dengan anak-anak saya. Lalu setelah makan malam, saya akan pergi ke kedai, menengguk sedikit tequila dan bermain gitar bersama teman-teman saya. Itu cukup untuk saya, senor.”

“Dengar saya, kawan.” Ujar si profesor bisnis. “Jika kamu tetap melaut sampai larut sore, dengan mudah kamu akan mendapat tangkapan dua kali lipat. Kamu dapat menjual kelebihannya, menabung uangnya, dan dalam waktu enam bulan, atau sembilan bulan kamu akan mampu membeli perahu yang lebih bagus dan lebih besar serta menggaji beberapa awak. Kemudian kamu akan menangkap ikan empat kali lebih banyak. Pikirkanlah berapa banyak tambahan uang yang kamu dapatkan! Dalam satu atau dua tahun, kamu akan punya modal untuk membeli perahu kedua dan menggaji awak-awak lain. Jika kamu mengikuti perencanaan bisnis ini, dalam waktu enam atau tujuh tahun kamu akan bangga menjadi pemilik sebuah armada penangkap ikan yang besar. Coba bayangkan itu! lalu kamu sebaiknya memindahkan kantor pusatmu ke Meksiko City atau ke L.A.. setelah tiga atau empat tahun di L.A., perusahaanmu bisa go public dan membuatmu sebagai CEO, dengan paket pembagian dan hak pembagian saham yang istimewa. Dalam beberapa tahun–dengarkan ini!–kamu memulai skema pembelian kembali saham-saham, yang akan menadikanmu sebagai multijutawan! Dijamin!  Saya ini profesor terkenal di Amerika. Saya tahu soal-soal beginian!”

Si nelayan Meksiko mendengarkan dengan khusyuk apa yang dikatakan oleh Profesor Amerika itu dengan menggebu-gebu. Setelah profesor selesai bicara, si Meksiko bertanya, “Tetapi, Senor Profesor, apa yang saya bisa lakukan dengan berjuta-juta dolar itu?”

Yang mengejutkan, si profesor Amerika itu belum memikirkan rencana bisnisnya sejauh itu. Jadi dengan segera, ia menerka-nerka apa yang bisa dilakukan seseorang dengan jutaan dolarnya.

Amigo! Dengan semua duit itu, kamu bisa pensiun. Yeah! Pensiun seumur hidup. Kamu bisa membeli vila kecil seperti di desa nelayan yang indah ini, dan membeli perahu kecil untuk pergi memancing pada pagi hari. Setiap hari kamu bisa makan siang dengan istrimu, dan tidur siang sejenak setelahnya, tanpa perlu menhkhawatirkan apapun. Pada sore hari kamu dapat melewatkan saat-saat berkualitas bersama anak-anakmu dan setelah makan malam, bermain gitar bersama teman-temanmu, meneguk tequila. Yeah, dengan semua uang itu, kawa, kamu bisa pensiun dan hidup senang!”

“Tetapi, Senor Profesor, kan sekarang ini saya sudah begitu?”

Mengapa kita percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, barulah kita bisa merasa berkecukupan? Saat ini pun kita bisa bahagia.

Dikutip dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Berapa Gaji Papa?

Kisah ini merupakan salah satu kisah favorit saya yang pernah saya temukan. Maka itu, ada baiknya saya kembali ceritakan agar kisah menarik ini bisa menggerakan hati lebih banyak pembacanya.

“Seorang perempuan cilik tengah menunggu ayahnya pulang dari kantor. Ketika ayahnya sampai, ia langsung menyambutnya dengan pertanyaan, “Pa, boleh aku tau berapa gaji papa?”. “Buat apa kamu tahu soal itu?” kata ayahnya dengan wajah masam. “Tapi aku mau tahu berapa gaji ayah perjamnya..” dengan wajah penuh melas bocah itu bertanya. Ayahnya yang kelelahan setelah bekerja sama sekali tidak suka dengan pertanyaan itu, ia kesal dan membentak, “Ayah sedang capek, tidak penting berapa gaji ayah! Sudah sana masuk ke kamar!!” dengan raut muka yang sedih akhirnya perempuan mungil itu masuk ke kamarnya

Si ayah juga lantas masuk ke kamarnya. Setelah beberapa saat beristirahat, si ayah tersadar bahwa tidak seharusnya ia memarahi anaknya hanya dengan pertanyaan sepele. Lalu ia menuju ke kamar anaknya untuk meminta maaf. “Nak, maafkan papa ya. Tidak seharusnya papa mengomeli kamu. Mau kan kamu memaafkan papa?.” Anaknya mengangguk, dan sekali lagi bertanya, “Pa, sekarang berapa gaji papa?” “Gaji papa sejamnya sebesar 20 dolar nak” jawabnya. Sambil tersenyum manis, anaknya berkata, “Pa, boleh aku pinjam uang papa 10 dolar?.” Ayahnya kaget, hampir saja ia lepas kontrol. Tapi dia ingat dia tidak boleh marah karena permintaan sepele anaknya. “Ini nak, memang buat apa?” sambil memberikan uang 10 dolar kepada anaknya.

Setelah menerima dari ayahnya, bocah mungil tersebut merogoh-rogoh bawah bantalnya. Ia mengambil uang recehnya yang ia kumpulkan di bawah bantal yang berjumlah 10 dolar. Jadi sekarang ia mempunyai uang 20 dolar. Dengan polosnya ia menyerahkan uang itu ke papanya sambil berkata, “Sekarang, apakah aku boleh meminta sejam waktu papa?”

Kisah termuat dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya…semoga bermanfaat