Indahnya Akhlak Rasulullah

Inilah manusia teragung, kekasih Allah, Nabi utama, dan pemimpin orang-orang shaleh yang dikaruniai beragam kemukjizatan. Dari beragam aspek kemukjizatan, salah satunya ialah cerminan dari akhlaknya yang begitu mulia, karakter pribadi yang murni yang menjadikan beliau pantas diutus sebagai Rasul pilihan. Dari sekian banyak contoh dari keanggunan akhlaknya marilah kita simak sekelumit akhlak beliau yang patut kita tauladani.

Lihatlah bagaimana beliau begitu tawadhu. Para sahabat bercerita bahwa Rasul saw kala bersalaman tidak melepakan tangannya hingga orang yang disalami itu yang melepasnya. Beliau selalu menghadap dengan seluruh tubuhnya. Beliau tidak memalingkan wajah dari orang lain, sampai orang itu sendiri yang memalingkan wajah. Beliau selalu duduk di tempat duduk terakhir yang tersisa. Beliau juga senantiasa riang ceria. Engkau tidak akan menemuinya kecuali dalam keadaan tersenyum.

Ketika seorang mendatangi Nabi dengan tubuh gemetar (ia mengira sedang bertemu dengan seorang raja). Melihat hal itu Nabi saw berkata, “Biasa-biasa saja. Aku bukan raja. Aku hanyalah anak dari seorang wanita yang makan daging kering di kota Makkah.” (HR. Ibn Majah no 3312)

Nabi lebih dari sekedar pekerja keras, lihatlah ini. Saat perang Khandak, di antara sahabat Nabi ada yang menggali lubang dan ada yang memecahkan batu. Menggali lubang dan memecahkan batu adalah pekerjaan yang relatif lebih bersih. Lalu apa yang dilakukan olehmu wahai Rasulullah? Apakah beliau hanya mengawasi? Apakah ikut menggali lubang? Ataukah ikut memecahkan batu?. Ternyata beliau membawa galian yang dalamnya tiga meter di atas pundaknya. Kata para sahabat, :Demi Allah kami melihat tubuh Rasul saw tertutupi tanah”

Salah satu pribadinya yang menonjol adalah, Rasulullah tidak rela dirinya diperlakukan istimewa. Saat dalam perjalanan, Nabi Muhammad saw menyuruh memasak kambing. Salah seorang berkata, “Aku yang mengulitinya, Yang lainnya berkata, “Aku yang memasaknya, Nabi pun berkata, “Aku yang mengumpukan kayu bakar”. Mereka menjawab, “Biar kami saja yang bekerja. Mendengar hal itu, beliau berkta, “Aku tahu kalian akan melarangku. Tetapi aku tidak suka diperlakukan istimewa, sebab Allah membenci seorang hamba yang ingin tampak istimewa di antara sahabatnya.” Nabi pun bangkit dan mengumpulkan kayu bakar.

Tugasnya sebagai pemimpin umat tidak membuatnya kehilangan kepekaannya terhadap anak-anak. Beliau memang sosok paling penyayang di antara semua manusia. Ada sebuah cerita. Seorang anak kecil di kota Madinah yang bernama Umair, ia selalu bermain dengan burung pipit. Nabi saw menamai burung itu dengan al-nughair (anak burung pipit). Setiap kali melihat Umair, Nabi berkata, “Wahai Umair, apa yang dilakukan oleh al-nughair?” suatu hari, Nabi melihat Umair sedang menangis. Beliau pun bertanya, “mengapa engkau menangis wahai Umair?” “Ya Rasulullah, al-nughair telah mati,” jawab Umair,.

Maka Nabi saw duduk sejenak mengajaknya bermain. Para sahabat yang lewat melihat Rasulullah saw bermain dengan Umair. Beliau berkata pada mereka, “al-nughair telah mati, karenanya aku ingin menghibur Umair.” (HR Bukhari 6203)

Simaklah betapa indahnyanya kisah ini. Ketika perang Khaibar telah berakhir, aku melihat Rasulullah sedang membagikan harta rampasan perang. Beliau melihat kepada orang-orang dan melihatku. Maka beliau memanggilku, “Kemari!” aku segera mendatanginya, lalu beliau mengeluarkan sebuah kalung dan berkata, “Pakailah!” sebetulnya aku hendak mengambilnya dan memakainya sendiri. Namun beliau menolak, “Tidak biar aku yang memakaikan.’” (HR Imam Ahmad 6/242).

Gadis itu melanjutkan, “beliau mengalungkan sendiri di leherku. Dan sejak saat itu demi Allah, kalung tersebut tdak pernah berpisah dari leherku. Bahkan aku telah berpesan agar ia ikut dikubur bersamaku sehingga pada hati kiamat nanti aku bisa menemui beliau dan berkata, “Kalung itu yang Rasulullah.” Jika hati kita jernih, pasti kita tersentuh dengan kisah ini.
Yaa Allah, shalawat serta salam kepada beliau sebanyak hembusan nafas para pengikutnya.

Sampaikan doa dan sapa kami kepada beliau, terangi kami dengan sunnah beliau, lindungi kami dengan naungan syafa’at beliau, dan pertemukan kami di surga-Mu dengan beliau. Amiinn. 

Advertisements

Cinta Mereka Kepada Rasulullah

Dalam pribadi yang agung ini, tersimpan khazanah keluhuran yang dengannya beliau diagungkan dan dihormati oleh setiap makhluk di jagad raya. Pancaran kasih sayangnya menyebar ke segenap penjuru dan merembes kepada setiap individu, baik dari jenis manusia, binatang, tumbuhan, dan mineral lainnya sehingga mereka pun menyayangi Nabi melebihi diri mereka sendiri. Pengutusannya sebagai rahmat bagi alam semesta membuat beliau dirahmati oleh setiap insan sampai di titik di mana mereka tidak memikirkan dirinya sendiri dan lebih memikirkan keadaan Nabi.

Dalam tulisan singkat ini, akan diceritakan sedikit tentang betapa cintanya para sahabat, binatang, sampai dengan tumbuhan kepada Rasulullah. Kadar cinta yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan beliau dan betapa pentingnya kehadiran beliau di dunia ini, dan betapa cinta Allah kepadanya menuntut makhluk langit sampai bumi, dari yang terbesar sampai yang terkecil, dan dari yang teremeh hingga tervital juga mencintainya dengan sepenuh hati.

Cinta Abu Bakar

Saat Fathu Makkah, Abu Quhafa, ayah Abu Bakar belum masuk Islam. Ia masuk Islam dalam usia sangat lanjut. Ia sudah buta. Abu Bakar membawanya ke hadapan Nabi untuk menyatakan keislamannya sealigus berbaiat kepadanya. Nabi SAW berkata padanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa tidak kau biarkan orang tua ini berada di rumah dan kita yang mendatanginya?”. Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih pantas untuk didatangi, ya Rasulullah.”. selanjutnya Abu Quhafah masuk Islam. Saat itulah Abu Bakar menangis. Orang-orang menegurnya, “ini hari bahagia, ayahmu masuk Islam dan selamat dari api neraka. Kenapa engkau malah menangis?”. (HR. Imam Ahmad 6249, 250)

Coba bayangkan!. Apa kitra-kira jawaban Abu Bakar?. Ia menjawab, “Karena aku mengimpikan orang yang berbaiat kepada Nabi saat ini bukanlah ayahku, tetapi Abu Thalib.

Lihatlah sikap Abu Bakar yang lebih mementingkan kebahagiaan Rasulullah, karena paman Nabi yang bernama Abu Thalib-orang yang selalu membela dan melindunginya- meninggal dalam keadaan belum masuk Islam.

Cinta Sawad ibn Ghaziyah

Di saat perang Uhud, Sawad ibn Ghaziyah berdiri di tengah-tengah pasukan. Posturnya agak gemuk. Nabi saw, kemudian berkata kepada pasukan, “Lurus….lurus!”. Nabi melihat Sawad dalam kondisi tidak lurus. Nabi saw berkata, “Lurus wahai Sawad!”. Sawad menjawa, “Ya wahai Rasulullah.” Ia berdiri namun tetap tidak lurus. Selanjutnya Nabi menghampiri Sawad dengan membawa siwak dan menusuk perut Sawad (ini terjadi di saat perang) seraya berkata, “Lurus wahai Sawad.” Sawad menjawab, “Sakit wahai Rasulullah. Demi zat yangmengutusmu membawa kebenaran, berikan kesempatan padaku membalasmu!.” Maka Nabi saw membuka baju sehingga perutnya yang mulia terlihat. Lalu beliau berkata, “Silahkan menuntut balas, wahai Sawad!” segera saja Sawad mendekap perut Nabi saw dan menciuminya.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang kulihat (perang) telah tiba dan bisa saja aku terbunuh. Maka di saat akhir perjumpaanku denganmu aku ingin kulitku bersentuhan dengan kulitmu.” Mendengar hal tersebut lalu Rasulullah mendoakan kebaikan untuknya.

Subhanallah, ini merupakan cita-cita yang begitu luhur, pada detik-detik terakhir bukan harta ataupun keluarga yang dipikirkan tetapi keinginan yang begitu dalam untuk bersentuhan dengan kulit Rasulullah SAW.

Kisah sebatang kurma

Sebelum mimbar dibangun, Nabi berkhutbah di masjid di samping sebatang pohon agar sahabat bisa melihat. Beliau berdiri dengan memegang batang pohon tersebut. Ketika mimbar telah dibangun, Nabi meninggalkan batang pohon tadi dan berdiri di atas mimbar itu. (ini adalah salah satu dari sedikit hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat karena mereka semua mendengarnya). Mereka berkata,

“kami mendengar suara rintihan batang pohon tersebut karena sedih ditinggalkan Nabi saw. Lalu kami lihat beliau turun dari mimbar dan kembali ke batang pohon itu. Beliau mengusapnya, seraya berkata. ‘Apakah engkau tidak rela dikubur di sini bersamaku di surga?’”. Maka batang pohon itu pun menjadi tenang. (HR. Ibn Majah no 1445).

Bayangkan!, batang pohon yang tidak punya perasaan pun menangis ketika ditinggal Rasulullah. Jadi apakah kita lebih tidak punya hati ketimbang batang kurma tersebut karena tidak ingin mengetahui sedikit pun sejarah Rasulullah?

Ketika Perang Uhud

Imam Buhkari meriwayatkan bahwa ketika Perang Uhud meletus, beberapa orang sahabat melindungi Rasulullah Saw. Dengan tubuh mereka sendiri. Abu Thalhah melindungi bagian depan Rasulullah dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai. Sebuah perisai kulit yang ia kenakan di pinggangnya. Abu Thalhal adalah pemanah yang sangat hebat. Setiap kali Abu Thalhah melepaskan anak panah, Rasulullah berusaha melongokkan kepala beliau untuk melihat ke arah banyak orang. Pada saat itu Abu Thalhah berkata, “Demi ayah dan ibuku, janganlah engkau melongokan kepalamu, karena engkau akan terkena panah yang mereka lepaskan. Biarlah kugunakan tubuhku untuk melindungi tubumu.” (HR. Bukhari, 5/23)

Aksi Heroik Abu Ubaidah bin Jarrah

Ketika umat Muslim sedang dalam kondisi terdesak dalam perang Uhud, Rasulullah pun mendapatkan serangan serangan hebat sampai-sampai dua keping lingkaran rantai topi besi yang menutupi wajahnya telah menusuk dan menembus pipinya. Ketika itu kepingan besi yang tertancap tidak bisa dicabut oleh tangan. Dengan kecintaan dan kerelaannya kepada Rasulullah, Abu Ubaidah bin Jarrah dengan cepat menghampiri Nabi lalu ia melakukan tindakan heroik dengan mencabut kepingan tersebut dengan giginya. Dengan aksinya itu, kepingan besi yang tertancap berhasil dicabut bersamaan dengan tercabutnya gigi geraham Rasulullah dan dua gigi depan Abu Ubaidah.

Betapa mengagumkannya kecintaan mereka kepada Nabinya, mereka lebih senang melihat Rasulullah senang ketimbang diri mereka sendiri, mereka ingin sekali bersetuhan dengan kulit beliau, tanaman bersedih karena berpisah dengan beliau, dan para sahabatnya rela mengorbankan diri mereka sendiri demi keselamatan beliau.

Itulah mereka, cinta orang-orang yang hidup bersama Rasululah. Bagi kita, yang tidak berjumpa dengan beliau di dunia in, apakah tidak ingin melihat paras beliau? Apakah tidak ingin berjabat tangan dengan beliau? Atau enggankah kita bercakap-cakap dengan beliau di surga nanti? Jika itu yang kita inginkan maka bukankah mulai dari sekarang kita harus lebih berusaha mencintai Rasulullah, mulai mencari tahu sejarah kehidupan beliau, lebih rajin lagi untuk bershalawat kepadanya dan mulai melatih diri untuk membiasakan dengan sunnahnya?  Semoga Allah memberikan kita hidayah dan taufiknya kepada kita.

Yaa Allah jadikanlah kami sebagai pecinta Rasulullah, pecinta sunnah beliau dan pertmukan kami dengan Rasulullah di surga-Mu. amin

Hikmah Pernikahan Rasulullah (Part 3-Bukti kesetiaan Nabi kepada Khadijah)

Kesetiaan Nabi Muhammad

Setelah secara singkat kita melihat nilai yang terkandung dalam pernikahan-pernikahan Rasulullah saw. Saya mau mengakhiri tulisan ini dengan menggambarkan kesetiaan hakiki yang ada pada diri Nabi. Inilah sedikit paparannya…

Beliau tidak pernah menikah dengan satu pun wanita selama istrinya yang paling dicintai-Khadijah-masih hidup. Bagaimana Rasulullah tidak dikatakan sangat setia, beliau menikah dengan Khadijah dengan umur yang terlampau sekitar 15 tahun lebih tua Khadijah. Apakah yang membuat seorang bujangan, dengan rupa yang menawan, akhlak yang terpuji, terkenal seantero Makkah malah menikah dengan janda 2 kali jika bukan karena cinta yang sejati? Apakah Muhammad muda tidak mampu mendapatkan perempuan gadis dan menawan? Pasti bisa! Tetapi cinta memang tidak menghendaki alternatif, walau tua, walau janda cinta tetaplah cinta.

Sekarang lihat, apakah bisa dibenarkan jika Nabi menikahi banyak perempuan hanya untuk memuaskan nafsunya? Logika apapun tidak akan menyetujuinya! Jangankan ketika umur Nabi menua, Muhammad pada usia dua puluhan, di mana kondisi badan masih sangat bugar, raga yang masih kuat, dan hasrat birahi sedang dalam kondisi puncak, tapi itu semua tidak membuat Muhammad muda melirik perempuan lain. Beliau sangat setia kepada Khadijah, andai bukan karena desakan dakwah barangkali ia menginginkan hidup menduda, dengan kenangan bersama Khadijah sebagai temannya.

Bacalah ini, tanda kesetiaan Nabi dengan Khadijah, istri pertama yang paling dicintainya:

Inilah kondisi Nabi saw. Empat belas tahun sesudah kematian Khadijah. Yaitu, saat Fathu Makkah. Hari itu Nabi sangat sibuk. Setiap orang ingin berbicara dengan Nabi. Di antara mereka ada yang ingin Nabi mintakan ampun untuknya. Ada juga yang ingin bertanya tentang beberapa persoalan. Namun, tiba-tiba beliau melihat seorang wanita tua yang sudah lanjut usia. Beliau meninggalkan semua orang dan duduk bersama wanita tersebut. Beliau lepaskan jubah beliau, lalu dihamparkan untuknya. Beliau mendudukkan wanita tersebut di atas jubah itu. Kemudian beliau duduk dan berbicara dengannya. Saat pembicaraan berlangsung ada seseorang yang terus mengawasi mengawasi mereka. tahukan engkau siapa dia? Ia adalah Aisyah. Ketika Nabi selesai berbicara dengan wanita tadi, Aisyah bertanya pada Nabi “Siapa wanita itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Ia adalah sahabat Khadijah. Dulu, di saat Khadijah masih ada, ia sering mendatangi kami.” Aisyah kembali bertanya “Apa yang kalian bicarakan?” beliau menjawab, “Kami mengingat saat-saat indah bersama Khadijah.” Mendengar hal itu Aisyah langsung terbakar cemburu. Ia berkata, “Engkau masih mengingat wanita tersebut padahal ia sudah dikubur di dalam tanah dan Allah pun telah menggantikan untukmu orang yang lebih baik daripada dirinya!.” Menengar itu, Nabi saw dengan nada agak marah menegaskan, “tidak!, Demi Allah, Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain” (HR Ahmad)

Bacalah sekali lagi lalu renungkanlah dengan hati yang jernih, pasti anda akan melihat sosok kesetiaan terbesar yang ada pada diri Rasulullah Saw.

Yaa Allah jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang mencintai Nabi-Mu dengan cinta yang hakiki. Mampu menjalankan sunnahnya dan dipertemukan dengannya di hari nanti. aminn

 

Hikmah Pernikahan Rasulullah (Part 1-dengan Aisyah)

Pertama-tama, marilah kita ucapkan shalawat serta salam kepada beliau. Manusia termulia pembawa misi teragung, Nabi Muhammad Saw. Semoga nanti kita dapat dipertemukan kepadanya, berjabat tangan dengannya, dan duduk bersamanya di surga kelak. Aminn

Sebuah pertanyaan umum yang sering muncul dari pribadi Rasulullah adalah, mengapa Rasulullah menikah dengan banyak wanita, padahal dalam al-Quran seseorang hanya boleh menikahi 4 istri? Untuk menjawab pertanyaan ini pertama-tama yang harus diketahui adalah, Allah mengkhususkan Rasulullah dari manusia secara umum karena risalah yang diembannya juga sangatlah khusus. Hukum spesial yang Rasul dapati itu sebagian besar untuk menyempurnakan dakwahnya atau menjaga martabat kenabiannya. Seperti misalnya, Rasul haram menerima zakat, Rasul wajib untuk mengerjakan shalat tahajud. Begitu pula masalah ini, Rasul dihalalkan untuk menikahi lebih dari 4 wanita itu demi kesuksesan dakwah Islamiyah bukan karena pandangan picik sebagian orang bahwa Nabinya Islam itu hypersex atau penggila wanita. Naudzubillah! Di sini saya hanya akan sedikit memamparkan beberapa hikmah pernikahan Rasulullah. Diantaranya :

Pernikahan Nabi dengan Aisyah

Jangan sampai anda terhasut oleh anggapan kotor musuh-musuh Islam yang mengatakan Nabi Muhammad seorang pedofil. Ini adalah perkataan orang-orang yang tidak mengetahui setting sejarah dan budaya pada masa lalu. Jangan menyamakan kehidupan pada zaman Rasulullah dengan kacamata barat zaman sekarang. Saat itu, pertumbuhan orang-orang Arab sangatlah cepat, pernikahan usia muda merupakan hal lazim yang terjadi. Bahkan, wanita yang berumur 18 tahun yang masih gadis bisa dianggap perawan tua pada saat itu. Ingat, Nabi baru satu atap dengan Aisyah ketika umur Aisyah sudah 9 tahun, ketika Aisyah sudah haidh dan kedewasaannya sudah terlihat.

Hikmah tersembunyi yang dapat kita petik begini, dalam hukum Islam sunnah Nabi menduduki peringkat kedua setelah al-Quran. Tidak seperti perkataan shakespears atau Khalil Gibran yang mungkin hanya di dengar dan di catat ketika mereka mengeluarkan kata-kata pujangganya, kata-kata atau perbuatan Nabi sekecil dan seremeh apapun akan diingat, dicatat dan direkam oleh para sahabatnya karena kemungkinan besar segala perbuatan Nabi itu mempunyai efek hukum atau minimal menjadi teladan bagi umatnya.

Karena kehidupan Nabi itu berkisar kepada ranah publik dan privasi (rumah tangga) maka para perekam hadits-hadits beliau juga mereka yang terlibat dalam 2 urusan tersebut. Para sahabat akan senantiasa untuk menjaga, mengamalkan dan mengajarkan apa-apa informasi yang datang dari Nabi, tetapi mereka hanya bisa mendapatkan informasi itu ketika berada dalam arena publik, di masjid, di jalan, ketika perang, dll. Sekarang pertanyaannya, siapakah yang mencatat segala tindak-tanduk Nabi ketika beliau berada di dalam rumah? siapakah yang mengompilasi informasi dari arena privasi Nabi?, siapakah yang mempunyai pengalaman ‘pribadi’ dengan Nabi? Nah disitulah hikmah keberadaan Aisyah, wanita cerdas dengan bakat melimpah yang akan menjadi sumber informasi seputar pertanyaan-pertanyaan urusan rumah tangga.

Siapa yang menyangkal bahwa Aisyah, putri Abu Bakar ini bukanlah seorang jenius? Sebanyak lebih dari 2000 hadits Nabi beliau yang meriwayatkan dan kebanyakan isinya adalah sekitar urusan rumah tangga. Dari Aisyahlah para suami-istri banyak mendapatkan pelajaran, ketika ada yang bertanya, “Bolehkah suami dan istri mandi dalam satu bejana?” si penanya tidak akan menemukan jawaban jika bertanya dengan Abu Bakar, Umar, atau para sahabat yang lain, tetapi jawaban tersebut dapat terjawab dari Aisyah, beliau berkata “Boleh, aku pun pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana…” (HR. Muslim). Ketika seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara membersihkan darah istihadhah (darah penyakit yang keluar dari otot rahim), Rasulullah segera menjawabnya, namun secara malu-malu. Wanita itu terus bertanya karena tidak begitu paham akan jawaban Nabi. Aisyah mengerti bahwa Rasulullah seperti tidak enak untuk mengatakan secara tuntas, maka dengan cepat Aisyah menarik tangan wanita itu, menjauh dari Rasulullah dan menjawab pertanyaan tersebut dengan tuntas (HR.Ahmad).

Jika tidak ada Aisyah, bagaimana mungkin informasi-informasi yang bersifat kewanitaan, rumah tangga, hubungan badan, masalah suami-istri dll dapat terhapal, tersimpan, dan sampai tersebar kepada umat? Seperti 2 contoh permasalahan di atas. Itulah sedikit hikmah dari banyak hikmah, mengapa Allah pasangkan Rasulullah dengan Aisyah..Wallahu’alam.